Jakarta: Keterbatasan ruang tak menjadi penghalang untuk berprestasi. Dari sebuah gang sempit di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, seorang remaja bernama Karlina atau akrab disapa Acil, membuktikan bahwa latihan sederhana tetap mampu mengantarkan atlet muda bersaing di tingkat nasional.
Berawal dari latihan akrobatik di lingkungan permukiman padat, Karlina berhasil meraih dua medali perak Kejuaraan Nasional Kickboxing 2025 serta tiga kali juara berturut-turut cabang tricking tingkat nasional. Prestasi tersebut diraih tanpa fasilitas profesional, melainkan melalui latihan rutin bersama komunitas akrobatik Indosalto.
Komunitas Indosalto diprakarsai oleh Yoga Ardian, pelatih
akrobatik yang mulai berlatih secara mandiri di depan rumahnya sejak masa pandemi COVID-19. Aktivitas sederhana itu perlahan menarik perhatian anak-anak sekitar, termasuk Karlina, yang kemudian tertarik untuk bergabung.
“Awalnya saya latihan sendiri. Lama-lama ada anak-anak yang ikut, termasuk Karlina. Kami latihan rutin setiap hari, tapi yang konsisten sampai sekarang memang Karlina,” ujar Yoga, Kamis, 15 Januari 2026.
Latihan dilakukan di sebuah gang sempit yang tetap difungsikan sebagai akses warga. Kendaraan bermotor, pejalan kaki, hingga pedagang masih lalu-lalang di lokasi tersebut. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari pelatih maupun peserta latihan.
“Kami selalu mengalah kalau ada yang lewat. Matras langsung disingkirkan, dan setiap mau melakukan gerakan harus pastikan kondisi aman,” kata Yoga.
Pemandangan latihan itu terlihat pada Kamis, 15 Januari 2026. Puluhan anak tampak bergantian melatih gerakan salto, tendangan, dan teknik akrobatik lain di tengah padatnya permukiman. Dengan peralatan seadanya dan pengawasan langsung dari pelatih, latihan tetap berjalan disiplin dan terstruktur.
Yoga menjelaskan, materi latihan disusun secara bertahap dan disesuaikan dengan keterbatasan ruang agar tetap aman. Selain mengasah kemampuan fisik, latihan ini juga bertujuan membangun mental dan kepercayaan diri anak-anak.
Menurut Yoga, Indosalto tidak semata-mata menargetkan peserta menjadi
atlet profesional. Komunitas ini hadir sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk menyalurkan minat dan bakat, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk bersaing di level nasional.
“Dari gang sempit pun, anak-anak bisa bermimpi besar. Yang penting konsisten dan berani mencoba,” ujarnya.
(Adrian Bachtiar)