Industri Cokelat Swiss Terhimpit Krisis Global, Biaya Produksi Melonjak

8 May 2026 14:58

Industri cokelat Swiss kini tengah menghadapi ujian terberatnya dalam satu generasi. Merek-merek ikonik dari negara ini terjepit di antara lonjakan biaya produksi yang masif dan gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik.

Meski didera tekanan hebat, para produsen tetap berkomitmen menjaga standar kualitas demi mempertahankan posisi mereka di pasar internasional.
Salah satunya terlihat di kota kecil Batterkinden, tempat rumah produksi Casa Nobile terus beroperasi.

Setiap harinya, mereka mengolah ratusan kilogram pralin dan cokelat batangan dengan presisi tinggi. Bagi sang pemilik, Fabian Sanger, suhu adonan yang tepat adalah kunci agar tekstur cokelat tidak rusak. Casa Nobile sendiri mengonsumsi sekitar 18 ton cokelat per tahun, yang dipadukan dengan gula, kacang-kacangan, dan ribuan liter susu.

"Bagi saya, mewah adalah kata yang berarti Anda tidak bisa membeli begitu saja, tapi harga juga hal penting. Ini bukan seperti Anda membeli mobil Ferrari misalnya. Ini mewah bagi satu orang, bukan mewah, Anda bisa membeli dua Ferrari, tapi bagi saya, mewah adalah ketika Anda makan cokelat dan merasakan emosinya, itulah kemewahan," ungkapnya dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Jum'at 8 Mei 2026.



Namun, visi artistik ini kini dibayangi oleh realitas ekonomi yang kelam. Harga kakao sempat menyentuh rekor tertinggi pada periode 2024 hingga 2025. Ironisnya, saat harga bahan baku mulai melandai, biaya transportasi dan energi justru meroket. Berdasarkan data dari Chocosuisse, penjualan cokelat Swiss pada tahun 2025 merosot 7,9 persen, dengan volume ekspor yang anjlok lebih dari sembilan persen.

Direktur Chocosuisse, Roger Wehrli, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah telah mempersulit jalur logistik. 

"Kawasan Timur Tengah adalah pasar yang sangat penting, dan pasar ini sekarang sangat rumit. Permintaan pasar sedang turun, sangat sulit untuk mengirim ke wilayah ini, dan terlebih lagi lebih rumit untuk mengekspor ke Asia karena sering kali harus melalui pusat logistik di Timur Tengah," jelas Wehrli.

Memasuki kuartal pertama tahun 2026, tekanan industri ini semakin nyata. Volume impor lemak kakao tercatat turun 15,7 persen. Namun nilai biayanya justru melonjak hingga 41,3 persen.

Di tengah badai ekonomi dan ketidakpastian geopolitik ini, industri cokelat Swiss berjuang keras untuk tetap bertahan dan menjaga statusnya sebagai ikon nasional yang tak tergantikan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)