Apa Kata Anak Muda tentang Sumpah Pemuda Hari Ini?

28 October 2026 08:58

Jakarta: Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi pengingat akan semangat persatuan yang diikrarkan para pemuda pada 1928. Namun, di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing, bagaimana generasi muda memaknai semangat tersebut saat ini?

Kemudahan akses internet membuat anak muda semakin dekat dengan berbagai tren global, mulai dari musik, fesyen, hingga budaya populer dari Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Meski demikian, mengenal dan menyukai budaya asing tidak serta-merta berarti meninggalkan budaya Indonesia.
 



Seorang pelajar yang ditemui MTVN Lens menilai budaya asing dan budaya Indonesia dapat berjalan berdampingan. Menurutnya, masuknya budaya dari negara lain merupakan hal yang sulit dihindari di era globalisasi.

"Jadi, kalau menurut pendapat saya itu, kita juga harus tetap berjalan berdampingan, apalagi dengan budaya Indonesia juga yang enggak kalah hebat," ujarnya.

Ia juga menilai generasi muda perlu mendukung produk lokal agar mampu bersaing dengan produk dari luar negeri. Baginya, kecintaan terhadap budaya asing tidak menjadi masalah selama tidak membuat anak muda melupakan identitas bangsanya sendiri.

"Jadi harus berdampingan, jadi enggak boleh berat sebelah di bagian budaya baratnya atau di Indonesia," katanya.

Menunjukkan Rasa Bangga terhadap Budaya Indonesia

Menjaga identitas bangsa tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar atau perayaan hari nasional. Kebiasaan sehari-hari, seperti mengenakan pakaian tradisional, menikmati karya seni Indonesia, menggunakan produk lokal, dan berbahasa Indonesia, juga dapat menjadi bentuk kecintaan terhadap tanah air.

Pandangan tersebut disampaikan seorang mahasiswi yang mengaku masih senang mengenakan batik dan kebaya. Ia juga berupaya mendukung budaya Indonesia melalui musik dan penggunaan produk lokal.

"Kalau aku sendiri tuh, aku masih suka pakai kayak batik gitu, atau pakai kebaya, terus juga masih dengar lagu Indonesia buat melestarikan lagu-lagunya," tuturnya.

Selain itu, ia mengaku menggunakan berbagai produk lokal, mulai dari tas dan sepatu hingga produk perawatan kulit dan kosmetik.

"Terus juga aku bangga menggunakan bahasa Indonesia dan juga menjaga fasilitas lingkungan gitu," tambahnya.

Sumpah Pemuda Jangan Berhenti sebagai Formalitas

Di sisi lain, peringatan hari nasional juga menjadi bahan refleksi bagi generasi muda. Seorang pemuda yang diwawancarai menilai perayaan seperti Hari Batik dan Hari Sumpah Pemuda terkadang masih sebatas formalitas.

"Kalau menurut pendapat pribadi aku sih untuk selama ini ya, kebanyakannya sih sekarang hanya untuk formalitas," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya anak muda untuk tetap bangga terhadap kebudayaan Indonesia yang beragam.
   

Menjaga Semangat Sumpah Pemuda di Era Modern

Semangat Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran untuk bersatu di tengah perbedaan. Dalam konteks saat ini, semangat tersebut tetap relevan ketika generasi muda menghadapi beragam pengaruh budaya dari luar negeri.

Menyukai musik Korea, mengikuti tren fesyen global, atau menikmati film asing tidak harus membuat seseorang kehilangan kecintaan terhadap budayanya sendiri. Hal yang penting adalah tetap mengenal, menghargai, dan memberi ruang bagi kebudayaan Indonesia untuk berkembang.

Nah, menjaga semangat Sumpah Pemuda di era modern bukan berarti menutup diri dari perkembangan dunia. Generasi muda justru dapat mengenal berbagai budaya sekaligus tetap bangga terhadap identitas bangsanya, mendukung produk lokal, dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia melalui tindakan nyata.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X