Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, terus meluas. Sepanjang tahun 2026, tercatat sebanyak 3.000 titik panas terdeteksi di wilayah ini dengan total luasan lahan terbakar mencapai lebih dari 1.000 hektare.
Jurnalis Metro TV Randi Al Faras melaporkan hingga Senin 19 Oktober 2026 pagi, sisa kabut asap akibat karhutla masih menyelimuti Kecamatan Sekayu. Meski tingkat kepekatan asap mulai menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya, jarak pandang di wilayah tersebut terpantau terbatas hanya pada kisaran 500 meter.
Dampak dari kabut asap ini secara langsung memengaruhi kualitas udara setempat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Musi Banyuasin saat ini menyentuh angka 190, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Kendati demikian, sebagian masyarakat terpantau masih menjalankan aktivitas di luar ruangan seperti biasa.
Tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, dan Satgas Karhutla terus bersiaga merespons laporan titik api baru. Dalam dua hari terakhir, petugas menerima sedikitnya 12 laporan karhutla yang menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Titik api tersebut sempat mendekati area permukiman warga, namun berhasil dipadamkan sebelum merambat lebih luas.
Dalam proses pemadaman darat, tim gabungan menghadapi sejumlah tantangan berat. Kondisi cuaca yang sangat panas menjadi pemicu utama mudahnya lahan terbakar. Selain itu, faktor kekeringan ekstrem juga menyulitkan petugas dalam mendapatkan pasokan air di sekitar lokasi titik api.
Di tengah kondisi udara yang buruk, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan diwajibkan menggunakan masker guna mencegah paparan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Satgas Karhutla juga meminta masyarakat agar segera melaporkan setiap temuan titik api untuk mempercepat upaya penanggulangan.