BRIN Kaji Efektivitas Dry Ice untuk Menanggulangi Asap Karhutla

Ilustrasi pemadaman karhutla. Foto- Dok. Kemenhut

BRIN Kaji Efektivitas Dry Ice untuk Menanggulangi Asap Karhutla

Atalya Puspa • 19 October 2026 09:54

Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji efektivitas penggunaan es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi tersebut diuji untuk mengetahui kemampuan memengaruhi lapisan inversi suhu atmosfer yang menghambat pergerakan asap dan pertumbuhan awan hujan.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, mengatakan lapisan inversi membuat asap berpotensi terakumulasi di dekat permukaan bumi. Sebab, lapisan inversi menghambat pergerakan udara secara vertikal.

“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelas Heru dalam keterangan tertulis, Senin, 19 Oktober 2026.

Ilustrasi- personel Manggala Agni melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. ANTARA/HO-Manggala Agni

Heru menjelaskan dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Kondisi itu memungkinkan udara hangat di dekat permukaan naik melalui proses konveksi dan mendukung pembentukan awan.

Namun, saat terjadi inversi suhu, lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin. Kondisi tersebut menghambat pergerakan udara ke atas, sehingga pertumbuhan awan hujan menjadi lebih sulit.

Salah satu pendekatan yang tengah diuji ialah penyemaian es kering atau karbon dioksida padat. Bahan yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat celsius itu menyerap panas dari lingkungan ketika mengalami sublimasi atau perubahan dari fase padat menjadi gas.

Secara konseptual, pendinginan lokal tersebut diharapkan memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan pencampuran udara secara vertikal. Jika kondisi atmosfer mendukung, proses itu berpotensi melemahkan lapisan inversi dan membuka peluang pertumbuhan awan.

“Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” terang Heru.
 


Dia menegaskan efektivitas penggunaan es kering belum dapat dipastikan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan. Lapisan inversi dapat mencakup wilayah luas dengan tingkat kestabilan berbeda, sehingga perubahan suhu di satu lokasi belum tentu mampu mengubah kondisi atmosfer keseluruhan.

Untuk mengevaluasi teknologi tersebut, BRIN dapat menganalisis data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan instansi pelaksana operasi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Data yang dibutuhkan meliputi profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer. Pengamatan dapat menggunakan radiosonde untuk memperoleh informasi kondisi atmosfer pada berbagai ketinggian serta data suhu selama penerbangan.

Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian juga perlu dilakukan sistematis untuk membandingkan perubahan kondisi atmosfer dan menilai pengaruh perlakuan yang diberikan. BRIN ingin memastikan setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah kuat.

"Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar memengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” ujar Heru.

(Achmad Zulfikar Fazli)