22 April 2026 12:46
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial dengan sesumbar akan mengambil paksa 'debu nuklir' dari wilayah Iran, baru-baru ini . Ancaman ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan internasional.
Pernyataan Trump tersebut dinilai bukan sekadar retorika politik biasa, melainkan sinyal eskalasi tinggi. Ucapan itu merujuk pada keyakinannya mengenai sisa-sisa uranium usai serangan AS dan Israel ke instalasi nuklir Iran, pada Juni 2025. Pihak Washington meyakini bahwa Iran masih menyimpan lebih dari 900 pon uranium yang telah diperkaya hingga level 60 persen.
"Anda akan sangat senang, AS akan mendapatkan seluruh debu nuklir itu. Anda tahu apa yang dimaksud dengan debu nuklir? Itu adalah zat putih seperti bubuk yang dihasilkan oleh pembom B-2 kami. Pembom B-2 yang hebat itu pada suatu malam, tujuh bulan yang lalu," ujar Trump, dikutip dari tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu 22 April 2026.
"Tidak akan ada uang yang berpindah tangan dalam bentuk apa pun. Anda tahu bagaimana kami akan mendapatkan debu itu, bukan? Iran, kami akan mengambilnya juga," kata Trump.
Lebih lanjut, Trump mengatakan, meskipun caranya berbahaya pihaknya akan tetap mendapatkan debu tersebut.
"Iran, dengan bantuan AS, telah atau sedang menyingkirkan semua ranjau laut. Dan yang paling penting, mereka tidak pernah menyetujui, dan Anda akan memahaminya. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Sementara itu, Iran menegaskan persediaan uranium miliknya tidak akan dipindahkan ke mana pun. Penegasan Iran itu membantah klaim yang disampaikan Trump bahwa Iran setuju untuk menyerahkan uraniumnya.