Biaya Impor Energi Uni Eropa Melonjak 22 Miliar Euro dalam 44 Hari Imbas Konflik Timteng

14 April 2026 12:09

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah mulai berdampak serius pada stabilitas ekonomi global. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, melaporkan bahwa tagihan bahan bakar blok 27 negara Uni Eropa mengalami lonjakan tajam akibat gangguan pasokan energi.

Dalam pernyataan resminya, Von der Leyen mengungkapkan bahwa Uni Eropa harus merogoh kocek tambahan hingga lebih dari 22 miliar Euro (setara dengan lebih dari 25 miliar Dolar AS atau sekitar Rp370 triliun) hanya dalam kurun waktu 44 hari terakhir. Lonjakan biaya yang sangat signifikan ini dipicu langsung oleh gangguan distribusi energi yang timbul seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
 

Baca juga: Pemerintah 'Banting Tulang' Selamatkan Indonesia dari Krisis Energi, Ini Buktinya

Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam akan terjadinya krisis energi yang lebih luas di seluruh kawasan Eropa. Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi ini diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu dekat, melainkan masih akan berlanjut untuk beberapa waktu ke depan sehingga menekankan stabilitas pasar energi Uni Eropa.

Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Komisi Eropa tidak tinggal diam. Sebagai langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan ekonomi, pemerintah Uni Eropa mengusulkan adanya pelonggaran aturan bantuan negara untuk sementara waktu. Kebijakan ini diambil dengan tujuan utama untuk melindungi konsumen rumah tangga serta sektor-sektor ekonomi yang paling rentan terhadap guncangan harga energi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)