22 August 2026 17:27
Jakarta: Dunia mode Indonesia tengah bersiap menyaksikan perpaduan dua desainer lintas generasi. Desainer busana pria kenamaan, Temma Prasetio, secara eksklusif dipercaya untuk menginterpretasikan ulang warisan motif batik legendaris dari rumah mode Iwan Tirta Private Collection ke dalam nafas yang lebih kontemporer.
Koleksi istimewa ini dijadwalkan akan dipamerkan di Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai bagian dari upaya membawa wastra nusantara ke kancah internasional.
Bekerja dengan motif Iwan Tirta bukanlah perkara mudah. Setiap motif memiliki pakem atau aturan sakral yang tidak boleh sembarangan dipotong atau diubah maknanya. Temma mengungkapkan bahwa kolaborasi ini melalui proses panjang, mulai dari pengenalan merek hingga diskusi mendalam dengan tim kurator Iwan Tirta.
"Kami sangat dibantu oleh tim Iwan Tirta tentang bagaimana mengeksekusi kain ini supaya tidak kehilangan maknanya, baik dari sisi motif maupun warna. Diskusi ini memudahkan kami untuk tetap mempertahankan siluet khas Temma Prasetio yang loose dan boxy tanpa merusak alur cerita pada batik tersebut," ujar Temma dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 22 Agustus 2026.
Berbeda dengan citra batik Iwan Tirta yang biasanya identik dengan kain sutra dan warna-warna gelap yang formal, kali ini Temma berani mendobrak tradisi. Ia memilih menggunakan bahan dasar katun dengan palet warna yang jauh lebih vibrant (cerah) dan terang.
Langkah berani ini diambil Temma untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap batik.
"Saya ingin batik tidak lagi hanya menjadi sebuah dress code yang dipakai saat acara formal saja, lalu setelah itu dilepas. Kami ingin batik bisa dipakai untuk sehari-hari, maka dari itu kami membuat desain seperti kardigan agar lebih ringan dan kasual," jelasnya.
Dalam koleksi ini, Temma kembali menonjolkan tanda tangannya, potongan crop boxy dan oversized. Ia mencoba menggabungkan sisi maskulin yang kuat dengan elemen keindahan yang halus.
Salah satu look yang mencuri perhatian adalah perpaduan kemeja batik dengan siluet pundak yang tegas (strong shape) namun memiliki sisi lembut pada pemilihan detailnya. Menariknya, Temma juga menyertakan aksesoris berupa obi atau selendang pinggang yang bisa dilepas-pasang.
"Jika ingin tampil lebih santai, obi-nya bisa dicopot dan hanya memakai kaos. Ini memberikan fleksibilitas tanpa merusak nilai estetika batiknya," tambah Temma.
Bagi Temma Prasetio, peran seorang desainer adalah sebagai media atau penjembatan bagi para pengrajin batik. Tugasnya adalah memastikan bahwa karya tangan para pengrajin yang sarat akan warisan budaya Indonesia tetap relevan dan bisa diterima oleh zaman apa pun.
"Itu adalah PR bagi desainer. Kami harus terus menambah ilmu agar kain-kain warisan ini tetap bisa dipakai kapan pun dan oleh siapa pun," pungkasnya.