Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara akibat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah penanganan yang disiagakan meliputi pengoperasian teknologi water mist, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, hingga pelaksanaan modifikasi cuaca.
Asap karhutla yang berasal dari wilayah Kalimantan dan Sumatra terdeteksi melintas di lapisan atmosfer Jabodetabek sejak Jumat, 16 Oktober 2026. Meskipun asap akibat pergerakan angin tersebut belum sepenuhnya memasuki lapisan atmosfer bawah wilayah ibu kota, Pemprov DKI menegaskan tidak ingin mengabaikan potensi bahaya bagi kesehatan masyarakat.
Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan dan Teknologi Water Mist
Guna mengantisipasi potensi lonjakan kasus gangguan pernapasan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), seluruh jajaran rumah sakit dan Puskesmas di
DKI Jakarta telah diminta untuk berada dalam posisi siaga.
"Pak Gubernur sudah memerintahkan minimal kita mengantisipasi semua rumah sakit, Puskesmas harus siap kalau memang terjadi ISPA segala macam." kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dikutip dari tayangan
Primetime News Metro TV, Minggu, 18 Oktober 2026.
Di sisi lain, Pemprov DKI kembali mengoperasikan teknologi water mist untuk menyemprotkan air di udara guna membantu menekan polusi, serta melanjutkan upaya
modifikasi cuaca.
"Tapi semalam juga saya mendengar dari BMKG bahwa angin sudah tidak bertiup ke Jawa, ini mengindikasikan akan ada penurunan. Cuma mungkin satu, kita akan melakukan water mist lagi, itu salah satu bukan satu-satunya cara, minimal bisa meredam kabut polusi segala macam," ucap Rano.