Kisah Inspiratif Hamid, Santri Penghafal 30 Juz Al-Qur'an dengan Metode Jari

20 February 2026 01:44

Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih kemuliaan sebagai penjaga kalamullah. Hal inilah yang dibuktikan oleh Adam Galih Al Hamid Gusman, seorang pemuda berusia 19 tahun asal Baturaja, Palembang, yang kini berhasil menjadi penghafal Al-Qur’an 30 juz.

Perjalanan Adam menjadi seorang hafiz tidaklah instan. Terlahir dari keluarga sederhana, ayah Adam berprofesi sebagai guru yang juga merangkap sebagai petani demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Saat pandemi Covid-19 melanda, kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit. Meski sempat putus asa karena biaya pendidikan pesantren yang tidak sedikit, orang tua Hamid tetap mendorongnya menempuh pendidikan agama hingga akhirnya ia berangkat merantau dari Palembang ke Jakarta demi menimba ilmu Al-Qur'an.

Keputusan masuk pesantren bukanlah pilihan yang mudah, Hamid sempat memiliki mimpi ingin menjadi pemain sepak bola karena dianggap lebih cepat menghasilkan uang. Namun, keyakinan orang tua serta dukungan para kerabat membuat jalan Hamid menempuh pendidikan tahfiz meski dengan segala keterbatasan.
 

Baca juga: Dalam Diam Mereka Berbicara pada-Nya, Kisah Para Santriwati Disabilitas Wicara Penghafal Al-Qur'an

Di awal masa mondok, Hamid mengaku kesulitan beradaptasi dengan ritme belajar yang padat dan metode hafalan yang ketat. Namun ingatan akan pengorbanan orang tua, menjadi penguat langkahnya untuk terus bertahan dan berjuang.

"Motivasi diri saya sendiri cukup dengan mengingat bahwasanya kita itu adalah harapan kedua orang tua kita," ujar Hamid.

Tantangan terus datang hamid harus menghadapi rasa lelah, rindu keluarga hingga minimnya dukungan materi. Apalagi saat melihat santri lain menerima kiriman dari keluarga. amun semua itu ia hadapi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Kini Hamid menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur'an Bait Qurani, Ciputat. Di sana, ia mengenal sebuah teknik unik yang memudahkannya menghafal, yakni Metode Jari.

Metode ini memanfaatkan 14 ruas jari tangan untuk memetakan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan membagi surat yang panjang menjadi potongan-potongan kecil sesuai ruas jari, proses menghafal menjadi lebih ringan.

Berkat metode ini, Hamid mampu mengkhatamkan hafalan 30 juz hanya dalam waktu satu setengah tahun saat duduk di bangku kelas 8, dan berhasil mendapatkan sanad pada kelas 10.

Cara Hamid menjaga hafalannya (murajaah) pun tergolong intensif. Ia terbiasa bangun pukul 02.00 dini hari untuk melaksanakan salat tahajud dengan bacaan sebanyak 2 juz, serta memanfaatkan waktu salat sunah rawatib untuk mengulang hafalan hingga mencapai target harian.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)