Jakarta: Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menyisakan kepulauan abu vulkanik saja di sejumlah daerah. Abu vulkanik yang terbawa angin juga jadi ancaman bagi kesehatan terutama untuk anak-anak yang termasuk bagian dari kelompok paling rentan terpapar gangguan pernafasan.
Wilayah terdampak erupsi Anak Krakatau
Sejumlah wilayah dilaporkan terdampak sebaran abu vulkanik dari
erupsi Gunung Anak Krakatau. Mulai dari Provinsi Lampung, Banten, Jabodetabek, sampai dengan Jawa Barat terdampak dari abu vulkanik erupsi Anak Krakatau. Ini juga berdampak pada banyak sekali aktivitas yang melibatkan anak-anak di dalamnya dan perlu ada perlindungan terhadap anak yang sangat penting terutama pada wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik.
Kandungan abu vulkanik
Abu vulkanik ini bukan sekedar debu biasa. Partikelnya berukuran sangat kecil dan mengandung silika di dalamnya sehingga bisa terhirup dan masuk ke dalam saluran pernafasan baik anak-anak maupun orang dewasa serta lansia. Kandungan abu vulkanik itu ada pecahan batu, mineral, kaca vulkanik, gas iritan berupa sulfur dioksida atau SO2 dan karbon monoksida.
Gejala akibat paparan abu vulkanik
Partikel yang kemudian bisa mengiritasi saluran pernafasan khususnya pada anak yang masuk ke dalam kelompok rentan.
Anak-anak menjadi salah satu yang harus mendapatkan perhatian lebih. Misalnya kalau ada gejala yang mulai terlihat pada anak-anak berupa bersin-bersin, batuk-batuk, pilek, sesak nafas sampai dengan terjadi iritasi pada mata dan juga kulit, harus mendapatkan perhatian khusus dan pendampingan dari orang tua ataupun orang dewasa yang berada di sekitarnya untuk memperhatikan kondisi anak.
Terutama kalau muncul keluhan-keluhan seperti gejala tersebut, karena ini menandakan ada reaksi dari abu vulkanik yang mungkin saja terhirup dan masuk ke dalam saluran pernafasan anak.
Melindungi anak dari paparan abu vulkanik
Beberapa caranya di antaranya yang pertama kita harus tetap berada di dalam rumah dengan kondisi rumah semuanya tertutup, kaca, jendela, pintu semuanya tertutup pemirsa. Harus menggunakan masker kalau terpaksa harus keluar rumah, selama kualitas udara belum dinyatakan membaik oleh otoritas yang berwenang.
Gunakan kacamata atau pelindung mata untuk anak-anak yang harus beraktivitas di luar ruangan pada saat mereka mungkin sedang berada di luar rumah atau bermain dengan teman-temannya. Apalagi bermain di area yang mungkin saja dari kasat mata terkontaminasi abu vulkanik.
Setelah beraktivitas di luar rumah pastikan untuk segera mengganti baju, melepaskan masker bersih-bersih supaya semua abu vulkanik tersebut tidak terbawa masuk ke dalam rumah.
Karena inilah yang nanti bisa berimbas pada saluran pernafasan anak dan muncul gejala-gejala seperti di atas.
Daerah tetapkan pembelajaran jarak jauh
Dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga mengubah pola pembelajaran di sejumlah daerah. Karena ini merupakan langkah resmi yang diambil oleh pemerintah untuk melindungi anak-anak. Sampai hari Senin, 7 September, ada sembilan wilayah yang kemudian sudah menerapkan pembelajaran jarak jauh alias PJJ atau belajar online, belajar daring.
Di DKI Jakarta, PJJ diberlakukan untuk seluruh sekolah negeri maupun swasta mulai Senin sampai Selasa, 8 September. Di Banten, PJJ juga diterapkan untuk jenjang SMA, SMK, dan sekolah khusus selama tiga hari sampai 9 September.
Di Kota Serang juga memperlakukan PJJ untuk jenjang yang lebih rendah lagi dari PAUD, SD, sampai SMP pada Senin kemarin. Kebijakan serupa diterapkan juga di Kota Cilegon, Pandeglang, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Bogor, serta di Provinsi Lampung dengan durasi dan jenjang pendidikan yang berbeda-beda.
Program MBG
Peralihan pembelajaran menjadi PJJ ini juga punya dampak pada pelaksanaan program makan bergizi gratis alias MBG. BGN menyatakan ketika dialihkan menjadi PJJ, mekanisme pemberian MBG di sekolah juga perlu disesuaikan supaya tepat sasaran, aman, dan selaras dengan kebijakan penanganan kondisi darurat. Penyesuaian ini bersifat sementara mengikuti dinamika kondisi tiap-tiap wilayah.
Ini disampaikan langsung oleh Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati. Ini menanggapi situasi terkini dengan perubahan beberapa hal dan kebijakan dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau kemarin.
Sumber: Redaksi Metro TV