4 July 2026 15:58
Harga komoditas pangan, khususnya daging dan telur ayam, dilaporkan mengalami penurunan harga yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Meski harga sedang turun, para pedagang justru mengeluhkan kondisi pasar yang sepi dan minimnya minat beli dari masyarakat.
Berdasarkan pantauan jurnalis Metro TV, Indira Pramesti, di Pasar Kopro, Jakarta, penurunan harga ini dipicu oleh beberapa faktor teknis dan kondisi pasar. Salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya penyerapan stok di masyarakat, terutama karena berhentinya sementara program makan bergizi gratis dari pemerintah selama masa libur sekolah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya oversupply atau kelebihan pasokan di pasar.
Harga daging ayam semula dijual di kisaran Rp40.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp35.000 per kilogram. Begitu juga untuk telur Ayam. Harga yang sebelumnya mencapai Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram, kini merosot ke angka Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Baca Juga :
Martini, salah satu penjual telur di Pasar Kopro, mengungkapkan bahwa penurunan harga tidak serta-merta meningkatkan volume penjualan. Menurutnya, daya beli masyarakat saat ini tengah menurun.
"Sepi, daya beli nggak ada. Masyarakat nggak punya uang, jadi nggak bisa beli. Pasokan kan banyak, jadi ya sudah harga turun," ujar Martini dalam program Metro Siang Metro TV, Sabtu, 4 Juli 2026.
Ia menambahkan bahwa konsumen yang biasanya membeli dalam jumlah banyak kini mulai mengurangi takaran belanja mereka.
"Biasanya mungkin beli sekilo, sekarang belinya jadi setengah (kilogram). Daya belinya turun," lanjutnya.
Kondisi harga yang rendah namun sepi pembeli ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang kecil. Mereka berharap kondisi pasar dapat segera kembali ramai dan daya beli masyarakat meningkat, sehingga harga pangan dapat kembali stabil dan usaha mereka tetap berjalan lancar.
Hingga saat ini, para pedagang hanya bisa menunggu momentum selesainya masa libur sekolah atau adanya kebijakan pemerintah yang mampu merangsang kembali roda ekonomi di pasar tradisional.