Jakarta: Perubahan besar sedang terjadi di sektor transportasi global dan nasional. Tekanan harga energi fosil, isu perubahan iklim, serta inovasi teknologi mendorong pergeseran menuju kendaraan listrik. Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti tren, tapi mulai memposisikan diri sebagai pemain utama dalam transisi ini.
Tren kendaraan listrik
Yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana kesiapan masyarakat, industri, dan pemerintah dalam menghadapi perubahan besar ini? Tren kendaraan listrik di Indonesia ini memasuki fase akselerasi kuat dalam periode 2022 hingga 2026. Data industri menunjukkan penjualan
mobil listrik meningkat dari 10 ribu unit di tahun 2026 menjadi 103 ribu unit di tahun 2025.
Jadi di tahun 2025 ini terjadi peningkatan lebih dari 10 kali lipat hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja. Nah, kalau di awal 2026, pangsa pasar dari mobil listrik ini sudah menyentuh sekitar 15?ri total penjualan nasional. Artinya apa? Dari setiap 6 hingga 7 mobil baru, satu di antaranya adalah kendaraan listrik.
Bahkan di wilayah perkotaan, seperti Jabodetabek, penetrasi sudah mencapai sekitar 25%. Ini menunjukkan adopsi yang lebih cepat di kota besar dengan daya beli dan infrastruktur yang lebih siap. Jadi ada beberapa faktor yang membuat masyarakat akhirnya mendorong untuk bergeser dan juga beralih ke kendaraan listrik. Yang pertama adalah desainnya yang modern. Jadi desain kendaraan listrik ini semakin modern, digital, dan juga terintegrasi dengan teknologi smart vehicle.
Hal ini menarik segmentasi konsumen muda dan juga profesional perkotaan. Kemudian alasan yang kedua adalah biaya operasional yang lebih rendah atau terjangkau. Mengapa? Karena biaya pengisian listrik secara umum lebih murah apabila dibandingkan dengan BBM.
Ditambah dengan biaya perawatan yang lebih sederhana karena komponen mesinnya yang lebih sedikit. Kemudian alasan yang ketiga adalah ketersediaan infrastruktur yang terus meningkat. Jadi sepanjang tahun 2025, jumlah SPKLU di Indonesia mencapai 4.655 unit di lebih dari 3.000 titik.
Ada peningkatan sekitar 40% apabila kita bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Lalu alasan yang keempat adalah faktor global seperti ketidakpastian harga BBM dan geopolitik dan juga pastinya adalah kesadaran lingkungan. Jadi kenaikan harga energi fosil ini membuat kendaraan listrik menjadi opsi yang lebih stabil, ekonomis dalam jangka panjang, dan juga pastinya kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi langsung.
Jadi dianggap lebih ramah lingkungan dan juga pastinya selaras dengan target penurunan emisi nasional. Tapi perlu dicatat Pemirsa, saat ini konsumen mobil listrik masih didominasi kelas menengah ke atas. Hal ini menunjukkan ada tantangan harga masih menjadi faktor kritis dalam perluasan pasar ke segmentasi mass market.
Target pemerintah
Pemerintah ini sudah menetapkan target strategis dan juga pastinya terukur dalam pengembangan kendaraan listrik nasional. Yang pertama yaitu di tahun 2030 ditargetkan terdapat 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik yang beroperasi di Indonesia.
Target ini pastinya terkait langsung dengan strategi penurunan emisi dan juga pengurangan ketergantungan impor BBM, di mana sektor transportasi menjadi salah satu kontributor emisi terbesar, sehingga elektrifikasi menjadi langkah kunci. Nah kalau misalnya kita lihat dari sisi industri, pemerintah juga menargetkan produksi massal saldan listrik yang akan terjadi di tahun 2028. Ini menunjukkan ada pergeseran dari pasar berbasis impor menuju basis produksi domestik.
Kemudian kalau kita lihat di tahun 2027, jadi tahun depan hingga 2029, pemerintah menargetkan ada TKDN di atas 60%, yang artinya mayoritas komponen termasuk baterai dan perakitan harus berasal dari dalam negeri. Langkah ini krusial untuk membangun rantai pasok industri mulai dari hilir hingga hulu, termasuk industri nikel dan juga baterai yang menjadi keunggulan Indonesia secara global. Nah kalau misalnya kita melihat dari sisi infrastruktur ya, tadi kita juga sudah bahas, pemerintah ini menargetkan ada puluhan ribu SPKLU dan hampir 200 ribu stasiun penukaran baterai di tahun 2030.
Target ini jelas diperlukan untuk bisa menjawab kekhawatiran utama konsumen terkait dengan jarak tempuh dan juga akses pengisian daya. Dengan kombinasi dari target populasi, industri dan juga infrastruktur, pemerintah berupaya membangun ekosistem yang terintegrasi dan bukan hanya menjadi pasar konsumsi. Kita beralih ke slide selanjutnya.
Insentif pemerintah
Kalau dari sisi kebijakan fiskal, transisi kendaraan listrik memasuki fase penyesuaian. Insentif besar yang menjadi pendorong awal adopsi sudah resmi berakhir mayoritas di tahun 2025, tepatnya di akhir tahun.
Jadi sebelumnya ada insentif seperti PPN ditanggung pemerintah dan bea masuk 0% untuk impor kendaraan, tapi ternyata saat ini sudah tidak berlaku. Akibatnya apa? Struktur pajak kembali normal dengan bea masuk hingga 50%, PPN 11?n PPN-BM 15% dimana kondisi ini berpotensi meningkatkan harga kendaraan listrik di pasar. Risikonya apa? Bisa memperlambat adopsi apabila tidak diimbangi dengan kebijakan yang baru.
Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang menggodok skema insentif baru untuk tahun 2026. Pembahasannya melibatkan lintas kementerian, ada kementerian keuangan, kementerian Perindustrian, Kementerian SDM, serta pelaku industri otomotif. Arah kebijakannya juga bergeser menjadi lebih selektif dan juga terarah.
Dimana insentif ini akan difokuskan pada kendaraan dengan TKD yang tinggi untuk bisa mendorong industri dalam negeri. Nah, salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pembebasan PPN hingga 100% untuk mobil listrik dan juga hybrid dengan harga di bawah Rp375 juta. Tujuannya supaya bisa buka akses sebagai kelas menengah dan juga mempercepat adopsi massal.
Kebijakan ini menunjukkan adanya transisi dari insentif jangka pendek menuju strategi industrial jangka panjang. Yaitu agar bisa membangun daya saing nasional sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Perbandingan dengan negara lain
Bagaimana jumlah dari kendaraan listrik di Indonesia dengan negara-negara lainnya, yaitu China dan juga Norwegia. Jadi dalam konteks global, transisi kendaraan listrik berjalan dengan kecepatan yang berbeda di setiap negara.
Jadi China ini menjadi pemimpin global, baik dari sisi produksi maupun adopsi. Dominasi didukung oleh subsidi yang besar, ekosistem industri yang terintegrasi, serta kapasitas manufaktur yang masif. Lalu bagaimana dengan Norwegia?
Nah, Norwegia ini jadi negara dengan tingkat adopsi tertinggi di dunia. Mayoritas penjualan mobil baru sudah berbasis listrik dan didorong dengan insentif pajak yang agresif dan infrastruktur yang sudah sangat matang. Sementara Indonesia saat ini berada di tahap transisi menengah. Di satu sisi Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam seperti nikel dan juga baterai.
Tapi di sisi lain Indonesia juga masih menghadapi tantangan infrastruktur, tantangan harga, dan juga edukasi konsumen. Posisi ini membuka peluang yang besar, karena apabila transisi bisa dikelola dengan tepat, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tapi juga bisa menjadi basis produksi global kendaraan listrik. Kita beralih ke slide selanjutnya.
Energi terbarukan
Terkait dengan elektrifikasi ini juga sudah disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ketika meresmikan pabrik listrik di Magelang beberapa hari yang lalu. Presiden menyatakan bahwa kita harus menuju ke energi yang bersih, energi yang terbarukan.
Salah satu langkahnya adalah dengan menggunakan listrik, yaitu elektrifikasi. Memakai listrik untuk tidak lagi memakai terlalu banyak BBM dari fosil, dari karbon. Jadi background dari pembicaraan dan juga pernyataan Prabowo Subianto ini dia juga mention terkait dengan tantangan yang saat ini tengah berlangsung.
Salah satunya adalah konflik di Timur Tengah. Kita melihat bagaimana konflik di Timur Tengah saat ini penutupan dan juga pembatasan dari Selat Hormuz sangat berpengaruh terhadap pasokan energi nasional. Dalam hal ini adalah BBM.
Dan saat ini Indonesia juga belum bisa mengejar untuk bertransisi secara langsung ke kendaraan listrik. Namun saat ini belum bisa mengejar bukan berarti kedepannya tidak bisa. Oleh karena itu memang elektrifikasi sudah menjadi opsi utama yang benar-benar harus diutamakan di Indonesia agar kedepannya memang kendaraan listrik ini bisa dipakai.
Dan ujung-ujungnya bisa mensejahterakan rakyat Indonesia dan juga memudahkan rangkaian perjalanan yang dilakukan. Nah pemirsa transisi ke kendaraan listrik bukan sekedar perubahan teknologi tapi transformasi sistem energi dan industri nasional. Dengan target ambisius kebijakan yang terus disempurnakan serta perubahan perilaku masyarakat Indonesia sedang menuju era baru transportasi yang lebih bersih dan juga berkelanjutan.
Tapi kunci utamanya tetap sama harus ada konsistensi kebijakan dan juga kecepatan eksekusi.
Sumber: Redaksi Metro TV