Ekonom: Bauran Kebijakan Kemenkeu-BI Dongkrak Kestabilan Rupiah dan IHSG

23 June 2026 21:55

Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat. Sinyal positif ini terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah dan kembalinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan.

Dalam program Primetime News Metro TV pada Selasa malam, 23 Juni 2026, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, membedah faktor utama di balik pemulihan pasar keuangan. Menurutnya, pemulihan pasar keuangan domestik yang dimulai sejak awal Juni 2026 dipicu oleh koordinasi solid dan komunikasi yang jelas dari otoritas moneter dan fiskal kepada para pelaku pasar.

"Bauran kebijakan itu muncul, dalam hal ini ada kesepakatan bahwa mereka apa namanya, baik Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, agree untuk membuat imbal hasil lebih tinggi sehingga foreign fund flow bisa kembali. Lalu juga ada kenaikan suku bunga BI Rate, dan juga dari Kementerian Keuangan ada komitmen untuk melakukan penyesuaian fiskal di tengah tekanan global yang ada. Itu membuat ekspektasi berubah total," jelas Fakhrul Fulvian.

Namun, ia menekankan pentingnya menyelaraskan indikator makroekonomi ini dengan realitas di tingkat mikro agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Masyarakat ini berbeda dengan ekonom dan pelaku pasar keuangan, merasakan fenomena mikronya, bukan angka makronya. Keberlangsungan dan juga fundamental yang kokoh tadi, kondisi optimisme itu hanya akan bisa tercapai kalau angka makro match dengan fenomena mikro. Misalnya pertumbuhan 5,6% itu diterjemahkan dengan ketersediaan sembako yang cukup dan mudah didapat di pasar," tambahnya.

Baca Juga :

Kejar Pertumbuhan 6,5% di 2027, Purbaya 'Cambuk' Geliat Ekonomi Daerah

Terkait langkah pemerintah melakukan diversifikasi pembiayaan luar negeri lewat penerbitan instrumen Panda Bond (obligasi berbasis mata uang Renminbi/Yuan di pasar Tiongkok), Fakhrul menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis terbaik Kementerian Keuangan saat ini. Fenomena pergeseran global pasca-trade war menunjukkan Tiongkok kian agresif melakukan internasionalisasi mata uangnya di saat likuiditas dolar AS mulai mengetat.

Dari sisi efisiensi biaya dana, obligasi berdenominasi Renminbi menawarkan tingkat bunga yang jauh lebih murah dibandingkan dolar AS maupun rupiah.

"Kalau rupiah bond tenor 10 tahun sekarang di sekitar 7,2. Kalau dolar itu 5,5 sampai 5,8. Renminbi 2,9 Pak. Jauh rendah sekali. Jadi ini memang langkah yang rasional dan harus diambil mengingat juga hubungan dagang kita makin hari lebih banyak juga dengan China kan ya, itu mitra dagang kita yang utama," urai Fakhrul.

Ia memprediksi, keberhasilan penerbitan Panda Bond oleh pemerintah ini akan membuka jalan bagi sektor korporasi domestik untuk mengakses ruang pembiayaan serupa di masa mendatang, sehingga kapasitas pertumbuhan ekonomi nasional menjadi jauh lebih besar.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X