Trump Klaim Selat Hormuz Bakal Dibuka Permanen Tanpa Tol

17 June 2026 21:48

Kesepakatan damai kini mulai bergema dari Washington DC dan Teheran. Amerika Serikat mengklaim kesepakatan awal telah dicapai dan Selat Hormuz disebut-sebut akan kembali dibuka untuk lalu lintas pelayaran internasional. Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah seluruh syarat dalam perjanjian itu dapat dipenuhi.

Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, kini kembali menjadi sorotan usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran akan kembali membuka jalur pelayaran internasional di kawasan. Trump mengklaim Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya pada Jumat 19 Juni mendatang, sehingga kapal-kapal dunia dapat kembali beroperasi dan aliran minyak akan kembali pulih.

"Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya tol. Status bebas biaya itu tidak hanya berlaku selama 60 hari seperti yang dikatakan beberapa pihak. Tidak, selat itu akan bebas biaya selamanya. Ketika dibuka secara permanen, tidak akan ada biaya apa pun," kata Trump dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Rabu 17 Juni 2026.

Inggris akan Bantu AS Buka Hormuz

Seiring dengan meredanya ketegangan, media lokal Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo telah berhasil melewati wilayah perairan yang sebelumnya diblokade ketat oleh operasi Angkatan Laut Amerika Serikat.

Langkah perdamaian ini juga mendapat dukungan dari komunitas internasional. Saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan komitmen negaranya untuk mengambil peran penuh dalam mengamankan jalur pelayaran Selat Hormuz, meski belum memastikan jadwal pengerahan armada kapal perang Inggris ke kawasan tersebut.

"Di KTT G7 ini, kami telah membahas rincian kesepakatan tersebut dan bagaimana cara membuka kembali Selat Hormuz secepat mungkin. Saya dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah membentuk kelompok negara-negara yang siap mengambil peran dalam memberikan jaminan keamanan untuk membantu kapal-kapal melintasi selat tersebut. Hal ini sangat penting bagi kami," jelas Keir Starmer.

Iran: Negosiasi Awal Fokus Penghentian Agresi AS

Putaran pertama negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran akan segera dilangsungkan setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jenewa, Swiss, pada Jumat mendatang. Perjanjian ini dirancang untuk mengakhiri agresi militer di seluruh front pertempuran, termasuk penghentian operasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta agresi ke wilayah Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memaparkan bahwa perundingan tidak langsung ini akan berjalan melalui beberapa tahapan krusial sebelum mencapai kesepakatan yang mengikat secara utuh.

"Misi penghentian perang, pembahasan Selat Hormuz, blokade laut, isu pencairan dana Iran yang dibekukan, serta rekonstruksi akan kami rundingkan untuk mencapai sebuah MoU. Kemudian, negosiasi akan berlanjut selama 60 hari hingga mencapai kesepakatan akhir. Dalam kesepakatan akhir itulah isu nuklir dan pencabutan sanksi akan diputuskan secara tuntas," papar Araghchi.

Meski AS dan Iran telah mengatakan sudah akan sepakat untuk berdamai, jalan menuju kesepakatan final masih dipenuhi syarat-syarat yang ketat yang belum seluruhnya terungkap ke publik. Selain poin krusial soal nuklir, pencabutan sanksi hingga jaminan keamanan kawasan masih menunggu perundingan selanjutnya. Belum ada jaminan kesepakatan benar akan bertahan hingga akhir.

(Sofia Zakiah)