Semarang: Sebanyak 213 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi bersih-bersih dan edukasi pengelolaan sampah di kawasan Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah. Melalui kegiatan bertajuk E-Cycle atau Electro for Circular Living, mahasiswa mengajak masyarakat memilah sampah sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Kegiatan yang berlangsung saat penerapan car free day (CFD) pada Minggu, 18 Oktober 2026 pagi ini berkolaborasi dengan Green Generation Jawa Tengah (GGJT). Para peserta menyisir sejumlah ruas jalan, mulai dari kawasan Simpang Lima, Jalan Pahlawan, Taman Indonesia Kaya, hingga Jalan Imam Barjo di sekitar Kampus Undip Pleburan.
Tak hanya mengumpulkan
sampah, para mahasiswa juga memilahnya berdasarkan kategori organik, anorganik, dan kimia. Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang sebelum diserahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk diolah kembali.
Ketua Pelaksana
E-Cycle, Muhammad Najammudin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Kami mengamalkan bagaimana setiap ilmu yang telah kami terima di Elektro, juga ilmu-ilmu yang telah diberikan oleh kakak-kakak tingkat kita, untuk dapat dipraktikkan dan berkontribusi di masyarakat,” ujar Najammudin.
Ia menjelaskan,
E-Cycle merupakan bagian dari kegiatan mandiri mahasiswa Teknik Elektro Undip angkatan 2025. Kegiatan tersebut menggabungkan aksi bersih-bersih dengan penyuluhan mengenai persoalan sampah dan cara pengelolaannya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan 213 panitia dari mahasiswa Teknik Elektro Undip serta 10 perwakilan Green Generation Jawa Tengah.
Bangun kesadaran masyarakat soal sampah
Anggota Green Generation Jawa Tengah, Desmitha, mengatakan edukasi
pengelolaan sampah menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Masyarakat diharapkan tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami cara memilah dan mengolah sampah secara mandiri. Menurut Desmitha, salah satu tantangan yang ditemukan adalah masih kurangnya kesadaran sebagian masyarakat bahwa sampah yang dihasilkan merupakan tanggung jawab masing-masing.
“Harapan dari hari ini adalah semoga setelah ini, ketika kita melakukan aksi clean-up lagi, sampahnya bisa berkurang dan juga yang kita tanamkan pada hari ini tidak hanya berhenti pada hari ini, tapi sustain,” kata Desmitha.
Ia berharap kegiatan bersih-bersih dan edukasi lingkungan dapat dilakukan secara berkelanjutan, bahkan menjadi agenda rutin setiap bulan di kawasan CFD Simpang Lima. Kegiatan serupa juga diharapkan dapat diteruskan kepada mahasiswa Undip lainnya.