Musik Buatan AI Bisa Disukai Pendengar? Ini Hasil Penelitiannya-Melek Teknologi

15 October 2026 12:00

Jakarta: Musik yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) kini mulai menarik perhatian industri musik. Teknologi AI tidak hanya digunakan untuk membantu berbagai aktivitas, tetapi juga merambah dunia seni, termasuk musik. Meski masih mengundang pro dan kontra, karya musik berbasis AI terus berkembang dan mulai mendapat tempat di tangga lagu.

Xania Monet, Musisi AI yang Menembus Billboard

Karya musik yang dibantu atau dihasilkan AI telah berhasil menembus tangga lagu Billboard. Salah satunya adalah Xania Monet, artis virtual yang menggunakan teknologi AI dalam proses penciptaan musiknya.

Melansir laman resmi Billboard, pada 2025, lagu Monet yang berjudul “Let Go, Let God” menduduki posisi ketiga di tangga lagu Hot Gospel Songs Billboard. Lagu lainnya, “How Was I Supposed to Know”, juga menempati posisi ke-20 di Hot R&B Songs.

Kesuksesan ini menarik perhatian sejumlah label musik besar di Amerika Serikat (AS) untuk menawarkan kontrak dengan nilai yang tidak sedikit. Salah satu tawarannya dilaporkan hampir mencapai 3 juta USD. Dalam dua bulan, lima lagunya juga berhasil menarik perhatian publik.

Xania Monet pun menjadi salah satu contoh artis berbasis AI yang berhasil menembus tangga lagu Billboard dan mendapatkan pemutaran di radio. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apa yang membuat musik hasil AI bisa disukai pendengar?
   

Penelitian Mengenai Keterlibatan AI dalam Musik

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports pada 2025 melibatkan 310 peserta untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi kesukaan dan keinginan mereka menggunakan musik dengan vokal buatan AI.

Hasilnya menunjukkan bahwa dua faktor, yaitu persepsi bahwa suara AI terasa hidup dan kemiripannya dengan karakteristik suara manusia, berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesukaan pendengar.

Dalam penelitian tersebut, persepsi suara yang terasa hidup berkaitan dengan sejauh mana suara AI dianggap memiliki karakteristik layaknya makhluk hidup. Sementara itu, kemiripan dengan manusia merujuk pada sejauh mana suara yang dihasilkan terdengar menyerupai suara manusia.

Ketika kedua karakteristik tersebut dinilai positif, pendengar cenderung lebih menyukai nyanyian AI. Kesukaan ini juga berkaitan dengan meningkatnya keinginan mereka untuk menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, rasa penasaran dan rekomendasi dari orang lain turut berperan dalam penerimaan musik AI.

Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi musik tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan suara, tetapi juga pada bagaimana manusia mempersepsikan suara tersebut.

Nah, musik hasil AI ternyata berpeluang disukai pendengar ketika suaranya terasa hidup dan terdengar alami seperti suara manusia. Meski begitu, penerimaan musik AI juga dipengaruhi faktor lain, seperti rasa penasaran dan rekomendasi dari orang lain.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X