Pelemahan nilai tukar Rupiah yang terus berlanjut di awal tahun 2026 hingga nyaris menyentuh level Rp17.000 per Dolar AS menjadi perhatian serius pemerintah. Meski demikian, Kementerian Haji dan Umrah memastikan kondisi ini tidak akan mengganggu penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, menjelaskan bahwa fluktuasi kurs Dolar AS maupun Riyal Arab Saudi telah diantisipasi jauh-jauh hari oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
"Pergerakan Dolar maupun Riyal terhadap Rupiah itu sudah diantisipasi oleh teman-teman BPKH sejak beberapa bulan yang lalu," ujar Irfan Yusuf di Jakarta, Rabu 21 Januari 2026.
Efisiensi Biaya Konsumsi: Turun Jadi 36 Riyal
Selain langkah antisipasi lindung nilai oleh BPKH, Kementerian Haji dan Umrah juga melakukan efisiensi ketat pada komponen biaya operasional, salah satunya pada pos konsumsi jemaah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa biaya makan jemaah berhasil ditekan. Jika tahun lalu biaya konsumsi dipatok 40 Riyal per hari, tahun ini turun menjadi 36 Riyal per hari.
"Rinciannya, makan pagi 10 Riyal, sedangkan makan siang dan makan malam masing-masing 13 Riyal," jelas Dahnil.
Meski anggarannya turun, pemerintah memberikan jaminan bahwa standar pelayanan tidak akan berkurang. Dahnil menegaskan bahwa gramasi (berat) porsi dan kualitas makanan jemaah justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai informasi, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026 kemarin, terpantau berada di level Rp16.956, atau hampir menyentuh angka psikologis Rp17.000 per Dolar AS.