Kisah 'MacGyver’ Ketapang, 80 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla

16 September 2026 21:51

Ketapang: Anggota BPBD Kabupaten Ketapang, Andika, hampir 80 hari berada di garis depan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kepungan asap dan kobaran api. Di balik keberaniannya menjinakkan api, Andika juga harus menahan rindu kepada keluarga sebagai seorang ayah.

Sejak awal Juli, Andika bersama timnya terus berjibaku memadamkan api di lahan gambut. Di kantor, ia bahkan kerap dijuluki ‘MacGyver’ karena mengandalkan keterampilan dan apa yang tersedia di lapangan untuk menghadapi kobaran api.

“Saya sendiri namanya Andika. Kalau di kantor itu biasa dipanggil MacGyver," ujar Andika dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu 16 September 2026.

Pernah Terjebak Kepungan Api

Risiko dalam menjalankan tugas pun tidak kecil. Andika pernah terjebak kepungan api hingga harus menerobos kobaran api menggunakan sepeda motor untuk menyelamatkan diri.

"Ini motor enggak mungkin terbakar. Ini motor enggak mungkin bisa meledak karena enggak ada istilahnya kebocoran bahan bakar dan lain sebagainya. Saya harus lintasi api ini," kata Andika.

Ia mengaku harus memaksa sepeda motornya melintasi kobaran api sejauh sekitar 15 meter. Situasi tersebut menjadi salah satu pengalaman berisiko yang dihadapinya selama bertugas di lapangan.

Menahan Rindu kepada Anak

Namun, di balik sosok petugas yang berhadapan dengan api, Andika tetaplah seorang ayah yang harus menjawab pertanyaan anak-anaknya setiap kali hendak kembali bekerja.

"Yah, mau ke mana lagi? Yah, Ayah mau kerja. Kerja lagi? Masih ada kebakarannya? Masih, masih banyak kebakarannya," tutur Andika.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dilema karena waktu bersama keluarga menjadi berkurang. 

"Harusnya mereka bisa banyak waktu bersama orang tua, tapi ya mau bagaimana lagi," ujarnya.
 

Baca Juga :

Karhutla Memburuk, Gangguan Pernapasan Lansia di Ketapang Meningkat

Keterbatasan Sumber Air

Selama hampir 80 hari berada di lapangan, Andika juga menghadapi keterbatasan sumber daya, terutama ketersediaan air untuk pemadaman di lahan gambut. Kondisi tersebut semakin kompleks karena sebagian wilayah telah ditanami perkebunan sawit yang membutuhkan banyak air.

"Tantangan terbesar kita di lapangan pastinya tentang sumber daya. Karena di lapangan juga di lahan gambut ini area yang sekarang ini sudah banyak ditanami perkebunan-perkebunan sawit yang tentunya mengonsumsi air cukup banyak," jelasnya.

Andika mengatakan peralatan pemadam yang lengkap tidak akan banyak membantu jika sumber air sulit ditemukan.

"Selengkap apa, sebanyak apapun peralatan yang kita miliki, kalau misalnya airnya enggak ada, kita enggak akan bisa kerja juga," katanya.

Tetap Bertahan di Garis Depan

Hampir 80 hari berada di garis depan juga membuat kondisi fisik Andika sempat menurun. Meski demikian, ia tetap menjalankan tugas dengan dukungan personel gabungan dan asupan vitamin.

Bagi Andika, bertugas memadamkan api bukan sekadar pekerjaan. Ia memilih tetap berada di garis depan karena ingin membantu masyarakat yang membutuhkan.

"Apa yang dicintai dari pekerjaan ini, yaitu satu; menolong orang. Ya karena pemadam kebakaran tidak ada lain yaitu menerima panggilan dari orang lain yang membutuhkan. Kita merasa senang apabila orang yang kita bantu merasa tertolong," ujar Andika.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X