29 July 2026 17:29
Pemerintah Indonesia memastikan bahwa tahap pertama impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Rusia telah resmi terealisasi. Langkah strategis ini dilakukan melalui mekanisme Government to Government (G2G) guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi hal tersebut usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan. Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah menunjuk Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian ESDM sebagai pengelola teknis pengadaan minyak tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 770 ribu barel minyak Rusia telah tiba di Balikpapan pada awal Juli lalu. Ini merupakan bagian dari total komitmen pengadaan sebesar 150 juta barel.
Langkah impor ini menjadi krusial mengingat adanya ketimpangan antara produksi dan konsumsi dalam negeri. Saat ini, angka lifting minyak Indonesia hanya berkisar 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, pada April 2026. Di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, Indonesia berupaya melakukan diversifikasi sumber energi untuk menjamin ketersediaan stok BBM.
Selain BBM, Rusia dikabarkan juga menyanggupi untuk mengekspor elpiji ke Indonesia. Meskipun saat ini rencana tersebut masih dalam tahap pengkajian lebih lanjut.
Menteri Bahlil juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan energi. Pemerintah menjamin cadangan minyak nasional dalam kondisi aman hingga akhir tahun 2026.