ESDM: Potensi EBT Indonesia Capai 3.687 GW, Tapi Baru Dimanfaatkan 16,32 GW

Ilustrasi energi baru terbarukan. Foto: Koaksi Indonesia.

ESDM: Potensi EBT Indonesia Capai 3.687 GW, Tapi Baru Dimanfaatkan 16,32 GW

Husen Miftahudin • 29 July 2026 17:08

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 3.687 gigawatt (GW) yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pembangunan daerah. Potensi tersebut didominasi oleh energi surya, hidro, dan angin.

"Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, yaitu mencapai 3.687 GW, dengan dominasi tenaga surya, hidro, dan angin," kata Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Yudhiawan dalam pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 29 Juli 2026.

Hingga Juni 2026, kapasitas pembangkit EBT yang telah terpasang baru mencapai sekitar 16.321 megawatt (MW) atau 16,32 GW. Menurut Yudhiawan, kesenjangan antara potensi dan kapasitas terpasang menunjukkan masih terbuka ruang yang luas untuk mempercepat pemanfaatan energi bersih di Indonesia.

Yudhiawan mengatakan pengembangan EBT tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, tetapi juga mendukung pembangunan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Akselerasi pemanfaatan EBT tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menjadi penopang pembangunan kawasan transmigrasi, menghadirkan pasokan energi yang bersih dan berkelanjutan," ujar dia.

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan pembangkit listrik nasional dengan kapasitas 69,5 GW, termasuk tambahan pembangkit berbasis EBT sebesar 43,6 GW. Pengembangan tersebut didukung rencana pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer dan gardu induk berkapasitas 107.950 megavolt ampere (MVA).

Menurut Yudhiawan, penguatan infrastruktur kelistrikan diperlukan untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik, termasuk di kawasan transmigrasi serta wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
 



(Gedung Kementerian ESDM. Foto: dok Istimewa)
 

Mini-Grid EBT jadi solusi wilayah terpencil


Pemerintah akan memperluas jaringan listrik untuk desa-desa yang berada di dekat jaringan distribusi. Sementara itu, sistem kelistrikan berskala kecil atau mini-grid berbasis EBT akan dikembangkan di wilayah terpencil, kepulauan, dan permukiman yang tersebar.

Yudhiawan menilai Papua memiliki potensi energi terbarukan lokal, seperti tenaga surya dan mikrohidro, yang dapat dimanfaatkan untuk menyediakan listrik secara berkelanjutan di wilayah yang sulit dijangkau.

"Untuk wilayah yang sulit terjangkau, pendekatan berbasis energi lokal menjadi salah satu solusi agar masyarakat dapat memperoleh listrik secara berkelanjutan," tutur dia.

Pemerintah juga melanjutkan Program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik guna memperluas akses energi bagi rumah tangga yang belum menikmati layanan kelistrikan. Pada 2025, program tersebut mencakup 1.516 lokasi dan memberikan akses listrik kepada 77.616 rumah tangga. Program itu dilanjutkan pada 2026.

Yudhiawan menegaskan penyediaan listrik di wilayah 3T menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung sektor pendidikan, kesehatan, dan perekonomian.

"Listrik ini dalam rangka peningkatan kualitas hidup, pendidikan, kesehatan, dan tentu saja penguatan perekonomian," papar dia.

Selain mempercepat pengembangan EBT dan elektrifikasi, pemerintah menjalankan strategi menuju kedaulatan energi melalui tiga pilar, yaitu kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi.

Pemerintah menargetkan peningkatan cadangan energi nasional dari kisaran 18–21 hari menjadi sedikitnya 30 hari melalui peningkatan kapasitas penyimpanan minyak mentah nasional.

Upaya swasembada energi juga mencakup peningkatan produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi, pengembangan kendaraan listrik, pemanfaatan gas sebagai substitusi elpiji, serta peningkatan penggunaan energi bersih.

(Husen Miftahudin)