Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi, Jawa Barat. Proyek strategis ini berlokasi di wilayah Ciketing Udik, Bantargebang, dan ditargetkan menjadi solusi permanen atas permasalahan darurat sampah di wilayah tersebut.
Fasilitas PSEL Bekasi ini diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari untuk dikonversi menjadi energi listrik. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi energi bersih sekaligus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kolaborasi Strategis
Pembangunan PSEL Kota Bekasi dilaksanakan oleh Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) bekerja sama dengan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Proyek ini merupakan fasilitas PSEL kedua yang mulai dibangun setelah proyek serupa di Denpasar Raya pada Juli 2026 lalu.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa proyek ini memiliki dampak lingkungan yang signifikan.
"Proyek ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, atau sekitar 70 persen dari total timbulan sampah di Kota Bekasi. Dari sisi lingkungan, PSEL ini diproyeksikan dapat menurunkan emisi sampah dari TPA hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton setara CO2 per tahun," kata Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, dikutip dari tayangan
Top News Metro TV, Rabu, 26 Agustus 2026.
Kepastian Operasional dan Kerjasama PLN
Dalam rangkaian peresmian, dilakukan pula penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) antara pengelola proyek dengan PT PLN (Persero). Perjanjian ini memberikan jaminan bahwa listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut akan diserap langsung ke jaringan
PLN, sekaligus memastikan keberlanjutan operasional proyek secara jangka panjang.
Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, yang turut hadir dalam peresmian tersebut, menekankan urgensi proyek ini mengingat kondisi TPA Bantargebang yang sudah kritis.
"Kota Bekasi ini sudah darurat (sampah). Sama seperti di Tangerang dan Bali, tumpukan sampah sudah mencapai ketinggian 60 meter. Kita targetkan di pertengahan 2027 atau 2028, pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini sudah bisa selesai seluruhnya," tegas Zulkifli.
Teknologi Ramah Lingkungan
PSEL Bekasi akan mengadopsi teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi dengan Air Pollution Control System (APCS) untuk memastikan emisi yang dihasilkan tetap aman bagi lingkungan.
Selain mengolah sampah baru yang masuk setiap hari, pemerintah juga menyiapkan teknologi pirolisis. Teknologi ini dikhususkan untuk mengolah gunungan sampah lama yang sudah menumpuk di TPA untuk dikonversi menjadi bahan bakar minyak.
Dengan pendekatan pengelolaan dari hulu ke hilir, termasuk
pemilahan sampah di tingkat masyarakat, PSEL Bekasi diharapkan mulai beroperasi penuh pada pertengahan tahun 2028. Fasilitas ini menjadi harapan baru bagi masyarakat Bekasi untuk mewujudkan kota yang lebih bersih, asri, dan mandiri secara energi.