Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, kini resmi menduduki kursi tertinggi kepemimpinan Nahdlatul Ulama sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031. Kemenangan telaknya dengan 472 suara dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang seolah menegaskan kepercayaan besar warga Nahdliyin terhadap sosok yang dikenal tenang namun tegas ini.
Siapakah sebenarnya Gus Kikin? Berikut adalah profil mendalam sang pengasuh Tebuireng yang kini menakhodai organisasi Islam terbesar di dunia.
Nasab yang Tersambung Langsung ke Pendiri NU
Lahir pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin membawa "darah biru" Nahdlatul Ulama dalam nadinya. Ia merupakan putra dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hajah Abidah Ma’shum. Melalui garis sang ibu, nasab Gus Kikin tersambung langsung secara genetik dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU.
Latar belakang ini menjadikannya figur yang sangat dihormati di kalangan pesantren. Sejak muda, ia telah menimba ilmu agama di berbagai pondok pesantren terkemuka, seperti Pesantren Sunan Ampel dan Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak di Jombang.
Perpaduan Unik: Pelaut, Pebisnis, dan Akademisi
Berbeda dengan banyak tokoh kiai pada umumnya, Gus Kikin memiliki spektrum pengalaman yang luas di dunia profesional. Ia tercatat sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Keahlian di bidang maritim ini membawanya berkarier di perusahaan pelat merah PT Djakarta Lloyd (1980–1992).
Tak berhenti di situ, jiwa kepemimpinannya teruji di dunia usaha saat ia mendirikan BBS Group pada tahun 1997. Di sisi akademik, ia juga merupakan sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka, yang melengkapi kemampuannya dalam mengelola komunikasi publik dan organisasi.
Penerus Estafet Gus Sholah di Tebuireng
Nama
Gus Kikin semakin dikenal luas saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 2020. Ia menggantikan posisi almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng tetap menjadi sentral pemikiran moderat. Pengalamannya di dunia luar pesantren membantunya mengelola institusi pendidikan tradisional dengan pendekatan manajemen modern—sebuah bekal berharga yang kini ia bawa ke PBNU.
Misi Besar: Menghidupkan Kembali Qanun Asasi
Dalam visi kepemimpinannya, Gus Kikin membawa misi yang fundamental. Ia bertekad menghidupkan kembali Qanun Asasi Nahdlatul Ulama—sebuah naskah dasar yang dirumuskan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Bagi Gus Kikin, mengembalikan NU ke landasan dasarnya bukan berarti mundur ke belakang, melainkan memastikan organisasi tetap berjalan di atas rel spiritual dan ideologis yang benar di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
"Diharapkan (Qanun Asasi) dapat dipelajari dan diaplikasikan kembali dalam perjalanan organisasi ke depan," tuturnya dalam rangkaian Muktamar, dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 31 Agustus 2026.
Kini, dengan perpaduan antara keteguhan tradisi
pesantren dan kecakapan manajemen profesional, Gus Kikin siap membawa PBNU memasuki babak baru kepemimpinan yang progresif namun tetap berakar pada sejarah.