Jakarta: Di tengah perhatian dunia yang tertuju pada eskalasi konflik besar seperti ketegangan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, sebuah konflik lain kembali memanas di kawasan Asia Selatan.
Pertempuran antara Afghanistan dan Pakistan yang kembali pecah sejak akhir Februari 2026 berlangsung dengan intensitas tinggi, meski tidak banyak mendapat sorotan internasional.
Permusuhan terbaru meletus pada 24 Februari 2026, ketika terjadi aksi saling tembak di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara. Masing-masing pihak saling menuduh sebagai pemicu awal provokasi. Situasi dengan cepat meningkat setelah Pakistan meluncurkan operasi militer besar-besaran yang disebut menargetkan puluhan titik di wilayah Afghanistan.
Kedua negara mengklaim telah menewaskan ratusan pihak lawan. Namun, masing-masing juga membantah klaim korban yang disampaikan pihak lain. Hingga awal Maret 2026, bentrokan dilaporkan masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. Pemerintah Pakistan bahkan secara terbuka menyebut situasi ini sebagai “
perang terbuka,” menandakan eskalasi yang semakin serius.
Akar Konflik yang Panjang
Ketegangan antara
Afghanistan dan Pakistan bukanlah fenomena baru. Akar persoalan bermula dari Durand Line, garis perbatasan yang ditetapkan oleh Inggris pada tahun 1893 ketika kawasan tersebut masih berada di bawah pengaruh kolonial. Garis ini membelah wilayah etnis Pashtun dan memisahkan komunitas yang memiliki latar belakang budaya dan sejarah yang sama.
Afghanistan sejak lama tidak sepenuhnya mengakui Durand Line sebagai perbatasan sah. Ketidakjelasan ini menjadi sumber konflik berkepanjangan, memicu ketidakpercayaan, pemberontakan, dan ketegangan politik selama lebih dari satu abad.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan juga menuduh
Afghanistan memberikan perlindungan kepada kelompok militan yang melakukan serangan lintas batas ke wilayahnya. Tuduhan tersebut dibantah oleh pemerintah Afghanistan. Namun, siklus kekerasan terus berulang, memperburuk hubungan bilateral yang memang sudah rapuh.
Konflik di Bulan Ramadan
Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan, eskalasi terjadi di bulan Ramadan, periode yang bagi umat Muslim seharusnya menjadi waktu refleksi, pengendalian diri, dan perdamaian. Di tengah berbagai konflik yang terjadi di sejumlah kawasan dunia, meningkatnya ketegangan di perbatasan Afghanistan–Pakistan menambah daftar panjang krisis kemanusiaan global.
Tanpa adanya langkah nyata menuju dialog dan de-eskalasi, konflik ini berpotensi memperpanjang instabilitas di kawasan yang selama ini telah rentan terhadap gejolak keamanan. Sejarah menunjukkan bahwa tanpa upaya penyelesaian politik yang serius, luka lama hanya akan kembali terbuka.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan mendesak bukanlah peningkatan kekuatan militer, melainkan keberanian politik untuk menahan diri dan membuka ruang perundingan. Tanpa itu, konflik berisiko terus berulang, dengan konsekuensi yang semakin besar bagi stabilitas regional.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Adrian Bachtiar)