Fenomena Begal di Jalanan: Tantangan Penegakan Keamanan Publik

25 May 2026 22:11

Gelombang kasus begal di wilayah ibu kota dan sekitarnya kian meresahkan warga. Tidak sekadar merampas harta benda, para pelaku kini semakin sadis dan berani, tidak segan melukai hingga menghilangkan nyawa korbannya di jalanan yang sepi.

Merespons krisis keamanan ini, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Iman Imanuddin menyatakan telah menerjunkan Tim Pemburu Begal yang bersiaga 24 jam penuh. Tindakan tegas dan terukur terus digencarkan, terbukti dengan ditangkapnya 173 tersangka dalam waktu singkat. "Kami tidak ragu-ragu mengambil tindakan sesuai undang-undang untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat," tegas Iman dalam dialog Primetime News, Metro TV, Senin 25 Mei 2026. 

Di sisi lain, kejahatan jalanan ini ternyata berakar pada masalah sosial yang lebih dalam. Kriminolog Haniva Hasna menyebut adanya pergeseran motif kriminalitas. Begal tak lagi murni karena himpitan ekonomi, melainkan ajang eksistensi unjuk gigi kelompok remaja, hingga dorongan agresivitas akibat pengaruh narkoba.

Senada dengan hal tersebut, Psikolog Klinis Senior Ratih Ibrahim menyoroti fenomena dehumanisasi dan matinya empati sosial pada para pelaku. Ia menilai krisis ini berawal dari kurangnya pengasuhan yang sehat di dalam keluarga, membuat pelaku menganggap nyawa korban sekadar objek tanpa nilai.

Pihak kepolisian kini telah merapatkan barisan dengan patroli dan tindakan tegas di lapangan. Namun, melihat kekerasan yang telah membudaya akibat krisis moral dan lingkungan, apakah penegakan hukum saja sudah cukup untuk menghentikan teror begal ini?

(Sofia Zakiah)