Jakarta: Hampir seluruh negara di Asia Tenggara pernah mengalami masa penjajahan oleh kekuatan asing. Namun, ada satu negara yang berhasil mempertahankan kedaulatannya hingga kini, yakni Tailan.
Fakta ini membuat Tailan menjadi satu-satunya negara di kawasan ASEAN yang tidak pernah dijajah bangsa Eropa. Keberhasilan tersebut bukan terjadi begitu saja, melainkan hasil dari strategi diplomasi, modernisasi, hingga faktor geografis yang menguntungkan.
Diplomasi Cerdas Hadapi Kekuatan Eropa
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Tailan yang saat itu masih bernama Siam menghadapi tekanan dari kekuatan kolonial Eropa, terutama Inggris dan Prancis.
Melansir dari
Vanguard, para pemimpin Siam saat itu mampu menjalankan
diplomasi yang cermat dengan menjaga keseimbangan hubungan antara kedua negara tersebut. Raja Mongkut dan Raja Chulalongkorn dikenal memiliki kemampuan negosiasi yang kuat untuk menghindari penjajahan langsung.
Meski harus memberikan sejumlah konsesi, seperti menyerahkan sebagian wilayah dan menyesuaikan kebijakan tertentu, langkah tersebut dinilai efektif untuk mempertahankan kemerdekaan Siam.
Peran Raja Chulalongkorn dalam Modernisasi
Raja Chulalongkorn menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Tailan. Selama masa pemerintahannya pada 1868–1910, ia melakukan berbagai reformasi besar di bidang pemerintahan, pendidikan, hingga ekonomi.
Modernisasi ini bertujuan menunjukkan bahwa Siam merupakan negara yang mampu mengelola pemerintahannya sendiri. Dengan begitu, negara-negara Barat kehilangan alasan untuk melakukan penjajahan.
Kebijakan tersebut juga memperkuat posisi Siam dalam hubungan dan perundingan internasional.
Letak Geografis Jadi Keuntungan
Selain
diplomasi, posisi geografis Tailan juga memberi keuntungan tersendiri. Melansir Seasia, Siam berada di antara wilayah kekuasaan Inggris di barat dan Indochina Prancis di timur.
Posisi ini membuat Siam berfungsi sebagai buffer state atau negara penyangga antara dua kekuatan besar tersebut. Inggris dan Prancis pun cenderung mempertahankan Siam sebagai wilayah netral untuk menghindari konflik langsung.
Kondisi ini memberikan ruang bagi Siam untuk menjalankan strategi diplomasi secara lebih leluasa.
Keterbukaan terhadap Dunia Luar
Tailan juga dikenal lebih terbuka terhadap hubungan internasional dan perdagangan. Salah satu langkah penting adalah Perjanjian Bowring yang membuka perdagangan luar negeri dan menghapus monopoli pajak perdagangan tertentu.
Kebijakan ini membantu Tailan menjaga hubungan baik dengan negara-negara Barat tanpa kehilangan kedaulatannya.
Di saat banyak negara lain di Asia Tenggara jatuh ke tangan kolonial, Siam justru fokus memperkuat sistem pemerintahan dan melakukan modernisasi.
Nah, keberhasilan Thailand mempertahankan kemerdekaan menunjukkan bahwa diplomasi, strategi politik, dan kemampuan beradaptasi bisa menjadi kunci penting menjaga kedaulatan sebuah negara di tengah tekanan kekuatan besar dunia.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Jessica Nur Faddilah)