Petugas kesehatan memeriksa temperatur tubuh warga di tengah wabah Ebola di RD Kongo. (Anadolu Agency)
Uganda Tutup Perbatasan dengan Kongo akibat Lonjakan Kasus Ebola
Muhammad Reyhansyah • 28 May 2026 09:34
Kampala: Uganda memerintahkan penutupan perbatasannya dengan Republik Demokratik Kongo setelah lonjakan kasus dugaan Ebola jenis langka di negara tetangga tersebut.
Langkah itu diambil ketika Uganda juga mulai mencatat kasus Ebola di dalam negeri setelah tenaga kesehatan setempat terpapar virus dari pasien asal Kongo.
Kebijakan tersebut bertentangan dengan panduan World Health Organization (WHO) dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran penyebaran virus Bundibugyo di Afrika Timur. Jenis Ebola langka itu belum memiliki obat maupun vaksin yang disetujui.
Berdasarkan data yang dihimpun Centers for Disease Control and Prevention dan WHO, Kongo mencatat 121 kasus Ebola terkonfirmasi dengan 17 kematian. Selain itu, terdapat sedikitnya 1.077 kasus suspek dan 246 dugaan kematian akibat penyakit tersebut.
Di Uganda, WHO dan CDC melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian.
Seperti Kongo, Uganda sebelumnya juga pernah menghadapi wabah Ebola. Gugus tugas kesehatan Uganda memutuskan penutupan perbatasan setelah tenaga medis negara itu tertular dari pasien Kongo yang melintas sebelum wabah diumumkan secara resmi di Kongo timur pada 15 Mei.
Mengutip CBS News, Kamis, 28 Mei 2026, Dokter Diana Atwine dari Kementerian Kesehatan Uganda mengatakan penyeberangan perbatasan hanya akan diizinkan untuk keadaan darurat, termasuk kepentingan penanganan wabah, pengiriman barang, dan keamanan.
Siapa pun yang masuk dari Kongo dalam kondisi darurat akan diwajibkan menjalani isolasi selama 21 hari.
Pelacakan dan isolasi kontak erat dinilai menjadi kunci untuk menghentikan penyebaran Ebola yang umumnya muncul dalam bentuk demam berdarah. Virus menyebar melalui kontak dekat dengan cairan tubuh pasien yang sakit atau meninggal dunia.
Para ahli menyebut tenaga kesehatan dan anggota keluarga yang merawat pasien menjadi kelompok paling berisiko.
WHO Peringatkan Risiko Penutupan Perbatasan
Pada Rabu, otoritas Kongo mengumumkan pasien pertama yang sembuh dari virus Bundibugyo telah dipulangkan dari pusat perawatan di Rwampara, salah satu wilayah episentrum wabah di Kongo timur.WHO sebelumnya tidak menganjurkan penutupan perbatasan dengan Kongo meski mengakui negara-negara tetangga berada dalam risiko tinggi penularan. Badan kesehatan PBB itu juga telah menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional.
"Penutupan perbatasan justru berpotensi mendorong pergerakan orang dan barang melalui jalur tidak resmi yang tidak diawasi, sehingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit," kata badan tersebut.
Perbatasan Uganda-Kongo membentang ratusan mil dan memiliki banyak jalur setapak selain pos resmi. Banyak warga melintasi wilayah itu setiap hari untuk berdagang maupun mengunjungi keluarga.
Otoritas kesehatan Kongo sendiri masih kesulitan mengendalikan wabah yang disebut WHO berkembang lebih cepat dibanding kapasitas respons mereka.
Jenis Ebola langka tersebut baru teridentifikasi beberapa pekan terlambat karena pengujian awal dilakukan terhadap jenis Ebola yang lebih umum. Situasi diperburuk ancaman kelompok bersenjata di Kongo timur, tingginya jumlah pengungsi, dan buruknya infrastruktur.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu menyerukan gencatan senjata di Kongo timur agar petugas kesehatan dapat bekerja dengan aman.
“Serangan terhadap fasilitas kesehatan membuat pelacakan kasus dan kontak mereka hampir mustahil dilakukan,” tulis Tedros di media sosial.
AS Tingkatkan Pengawasan
Sementara itu, Amerika Serikat tengah menyiapkan fasilitas di Kenya bagi warga AS yang terpapar atau terinfeksi Ebola. Beberapa pejabat CDC mengonfirmasi langkah tersebut kepada CBS News pada Rabu.Seorang dokter AS yang tertular Ebola saat bekerja bersama kelompok misionaris di Kongo sebelumnya telah diterbangkan ke Jerman untuk menjalani perawatan awal bulan ini. Enam warga AS lainnya juga dipindahkan ke Jerman dan Republik Ceko untuk pemantauan kesehatan.
Seluruh warga AS yang baru bepergian dari Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan kini diwajibkan masuk melalui tiga bandara tertentu, yakni Houston Bush International, Washington Dulles International, dan Hartsfield-Jackson Atlanta International, guna menjalani pemeriksaan kesehatan tambahan.
Bandara John F. Kennedy di New York akan ditambahkan ke daftar tersebut mulai Kamis, menurut pengumuman Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS.
Bandara Houston memperkirakan akan memeriksa hingga 50 penumpang per hari.
Pemegang green card AS dan warga negara asing yang baru bepergian dari ketiga negara tersebut saat ini juga dilarang memasuki Amerika Serikat berdasarkan pedoman CDC.
“Kami tidak bisa dan tidak akan membiarkan kasus Ebola masuk ke Amerika Serikat,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat rapat kabinet Presiden Donald Trump di Gedung Putih.
Baca juga: Wabah Ebola di Kongo Picu Respons Bantuan Dana Global hingga Rp8,8 Triliun