Wabah Ebola di Kongo Picu Respons Bantuan Dana Global hingga Rp8,8 Triliun

Petugas kesehatan menangani wabah Ebola di RD Kongo. (Anadolu Agency)

Wabah Ebola di Kongo Picu Respons Bantuan Dana Global hingga Rp8,8 Triliun

Muhammad Reyhansyah • 26 May 2026 20:06

Kinshasa: Krisis Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo telah menarik komitmen bantuan global sekitar USD500 juta atau setara Rp8,869 triliun .

Komitmen tersebut diumumkan dalam pengarahan pejabat negara pada Senin, 25 Mei 2026 ketika para pemimpin Afrika dan pejabat kesehatan internasional memperingatkan risiko penyebaran wabah ke seluruh benua.

Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) Jean Kaseya mengatakan jumlah komitmen itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding sekitar USD208 juta yang tercatat hingga 23 Mei lalu.

Melansir Miami Herald, Selasa, 26 Mei 2026, kontribusi terbesar datang dari Bank Dunia sebesar USD160 juta untuk Kongo, kemudian USD82 juta dari Amerika Serikat, serta sekitar USD57 juta dari negara-negara Eropa.

Kaseya mengatakan dana yang terkumpul hampir menutup kebutuhan awal penanganan wabah yang diperkirakan mencapai USD519 juta.

Namun ia memperingatkan kebutuhan pendanaan kemungkinan meningkat seiring meluasnya wabah dan perluasan langkah kesiapsiagaan.

Risiko Penyebaran Ebola

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan wabah Ebola kini menjadi ancaman serius bagi Afrika. Menurutnya, penyebaran regional semakin berisiko akibat konflik, mobilitas lintas batas, dan lemahnya sistem kesehatan.

"Keamanan kesehatan adalah keamanan ekonomi," kata Ramaphosa dalam pengarahan virtual tersebut.

Ia menambahkan wabah berkembang di wilayah dengan pergerakan penduduk tinggi, kondisi keamanan tidak stabil, perbatasan terbuka, tekanan kemanusiaan, dan jalur perdagangan aktif.

Ramaphosa menyebut lebih dari 200 orang telah meninggal dunia akibat wabah tersebut dan menyerukan respons Afrika yang cepat dan terkoordinasi.

Data kementerian kesehatan Kongo menunjukkan lebih dari 900 kasus dugaan Ebola telah dilaporkan di 11 zona kesehatan pada tiga provinsi di wilayah timur negara itu. Jumlah kematian suspek hingga 23 Mei mencapai 210 orang.

Uganda juga melaporkan dua kasus baru pada Senin, yang seluruhnya merupakan tenaga kesehatan.

Menurut Kaseya, sedikitnya 10 negara Afrika termasuk Kenya dan Angola kini berada dalam risiko tinggi mengalami wabah karena jalur perjalanan dan perbatasan yang terbuka.

Tantangan Penghentian Epidemi Ebola

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan keterlambatan deteksi membuat dunia kini tertinggal menghadapi epidemi yang bergerak cepat.

"Kami telah menghentikan setiap wabah Ebola sebelumnya dan kami akan menghentikan yang ini juga. Pertanyaannya hanya seberapa cepat kami bisa melakukannya dan berapa banyak nyawa lagi yang akan hilang sebelum itu terjadi," ujar Tedros.

Organisasi kemanusiaan ActionAid menyebut sebanyak satu dari tiga warga di Ituri masih percaya virus Ebola tidak nyata.

Direktur ActionAid DRC Saani Yakubu mengatakan penanganan wabah juga menghadapi tantangan berupa mitos, ketakutan, dan kecurigaan mendalam di masyarakat.

Wabah saat ini dipicu strain langka Bundibugyo Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi antibodi yang disetujui.

WHO menetapkan epidemi tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional pada 17 Mei lalu.

Baca juga:  Italia Siaga usai Deteksi Dua Kasus Suspek Ebola dari Uganda

(Willy Haryono)