Caracas: Kegiatan kilang dan kapal tanker di Venezuela tetap beroperasi normal sejauh ini. Meskipun Amerika Serikat (AS) masih menahan kapal-kapal tanker asing yang menentang sanksi Presiden Donald Trump terkait minyak Venezuela.
Suasana normal terlihat setelah operasi militer AS menggulingkan Presiden Venezuel Nicolas Maduro. Belum ada tekanan berarti dari AS setelah Trump mengumumkan dirinya menangani sementara Venezuela.
Venezuela, yang ekonominya bergantung pada minyak, kini menjadi sasaran pemerintahan Trump. Terlepas dari janji akan adanya perubahan besar di masa depan, namun para pekerja tetap beraktivitas normal untuk perusahaan minyak milik negara Venezuela.
Reformasi industri minyak
Sebelumnya, Presiden interim Venezuela
Delcy Rodríguez menyerukan persetujuan rencana reformasi industri minyak untuk menarik investasi asing dan memulihkan perekonomian negara.
Dalam laporan tahunannya kepada legislatif pada Kamis, 15 Januari 2026, Rodríguez menekankan reformasi ini akan meningkatkan lingkungan operasi industri minyak dan kapasitas kerja sama luar negeri.
Rodríguez mengungkapkan produksi minyak Venezuela mencapai 1,2 juta barel pada Desember 2025. Pendapatan dari ekspor minyak akan dialokasikan terutama untuk mendukung sistem kesehatan publik, pembangunan ekonomi, dan proyek infrastruktur.
"Venezuela saat ini berada di titik balik penting, dan pemerintah akan mengeksplorasi cara pertukaran mata uang asing yang lebih pragmatis dan beragam," jelasnya, dikutip dari Xinhua, Jumat, 16 Januari 2026.
Di tengah tekanan ekonomi dan sanksi internasional, Rodríguez menekankan pentingnya hubungan saling menghormati dengan semua pihak, termasuk Amerika Serikat. Pernyataan ini mencerminkan upaya Venezuela membuka ruang dialog dan kerja sama ekonomi di tengah isolasi finansial yang telah berlangsung bertahun-tahun.