Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta Selatan mengakibatkan tembok belakang Sekolah Dasar Negeri (SDN) 08 Tebet Barat, roboh. Akibat kejadian ini, pihak sekolah terpaksa mengalihkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring.
Tembok yang ambruk tersebut memiliki panjang 42 meter dengan ketinggian mencapai tiga hingga empat meter. Material reruntuhan dilaporkan menimpa area kantin sekolah dan menutupi saluran air di sampingnya. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, karena kejadian berlangsung pada malam hari saat tidak ada aktivitas di lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SDN 08 Tebet Barat, Daryono, menjelaskan bahwa ambruknya tembok diduga kuat, karena kondisi turap yang sudah melemah akibat usia bangunan yang cukup tua. Kondisi tersebut diperparah oleh gerusan air dan tingginya debit air saat hujan lebat terjadi, sehingga struktur bangunan tidak lagi mampu menahan beban.
"Jadi turapnya itu memang mungkin tergerus air ya karena banjir, karena hujan yang sangat besar. Bawahnya itu ambruk, sehingga yang di atasnya kan pasti ikut dong ambruk," ujar Daryono dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu 6 Mei 2026.
Sebagai langkah penanganan, petugas gabungan dari Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA), PPSU Kelurahan Tebet Barat, hingga Satpol PP dikerahkan ke lokasi sejak Selasa pagi. Camat Tebet, Putut Puji Linangkung, menyatakan bahwa proses evakuasi material yang awalnya dilakukan secara manual kini dipercepat dengan bantuan alat berat berupa satu unit ekskavator. Prioritas utama petugas adalah membersihkan saluran air yang tersumbat puiing-puing agar aliran air kembali normal dan tidak memicu banjir di area sekitar.
"Saat ini pada posisi yang di dalam sekolah sampai di dalam saluran, hari ini kita dapat bantuan beko dari Sumber Daya Air Sudin Jakarta Selatan. Kami bersama teman-teman Lingkungan Hidup, SDA, Satpol PP, PPSU, dan semuanya untuk cepat menyelesaikan masalah ini hari ini. Sehingga sudah dari kemarin dan hari ini anak-anak sekolah di rumah, dirumahkan, supaya harapan kita besok sudah bisa masuk sekolah kembali," kata Putut.
Demi menjaga keselamatan dan kenyamanan para siswa selama proses pembersihan berlangsung, pihak sekolah memutuskan untuk menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (
PJJ). Keputusan mengenai durasi PJJ ini nantinya akan didiskusikan lebih lanjut antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.
Pemerintah setempat berharap proses pembersihan lahan dapat rampung segera sehingga aktivitas belajar mengajar tatap muka dapat kembali normal dalam waktu dekat.