Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Salah satunya di Kertabumi Recycling Center yang mengolah berbagai jenis sampah menjadi produk bernilai guna melalui sejumlah teknologi daur ulang.
Berawal dari sebuah komunitas, Kertabumi Recycling Center kini berkembang menjadi kewirausahaan sosial yang berfokus pada pengelolaan dan daur ulang sampah. Di tempat ini masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah yang kemudian akan dipilah dan diolah kembali menjadi produk bernilai guna.
Pendiri Kertabumi Recycling Center Ikbal Alexander mengatakan agar proses pengelolaan berjalan lebih efisien, sampah yang disetorkan harus dalam kondisi tidak tercampur sehingga dapat langsung diproses.
“Jadi kami menerima sampah domestik dari rumah tangga, sekitar 70 persen sampah kami terima, yaitu dua kelompok: sampah organik, sisa makanan, dan juga sampah kebun; dan kedua adalah sampah anorganik atau sampah yang tidak membusuk yang dikirimkan ke kami dalam kondisi bersih dan kering. Jadi selain menerima sampah, kamipun fokus untuk mengembangkan teknologinya.” kata Pendiri Kertabumi Recycling Center, Ikbal Alexander, dikutip dari tayangan Metro Pagi Primetime, Metro TV, Minggu, 7 Juni 2026.
Melalui beragam teknologi daur ulang, limbah plastik yang semula tak terpakaipun diubah menjadi berbagai produk yang dapat digunakan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi dari sampah plastik kami ubah menjadi bahan bangunan untuk membangun rumah, sekolah, dan masjid. Dan terakhir kami punya plastic waste to energy, kami mengubah sampah plastik menjadi bensin dan solar.” ucapnya.
Tidak hanya mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, Kertabumi juga terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menangani persoalan sampah. Kerjasama tersebut dilakukan bersama pemerintah, perusahaan, maupun komunitas untuk menghasilkan solusi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Upaya ini sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat dapat mulai memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Produk daur ulang memang masih sangat niche banget market-nya, tapi trennya terus berkembang, growing. Jadi kami cukup optimis. Saat ini kami menjual baik di e-commerce ataupun online dengan pangsa pasar paling utama adalah Gen Z, karena mungkin mereka lebih aware terhadap lingkungan.” tuturnya.
Menurut Ikbal, isu sampah bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kemanusiaan. Transformasi menuju kehidupan ramah lingkungan bukan suatu pilihan melainkan kewajiban yang bisa kita lakukan mulai dari sekarang.
Dari hasil pengelolaan ini, tidak hanya membuat masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kreativitas masyarakat agar dapat menggunakan barang-barang bekas ataupun
limbah plastik yang awalnya menjadi masalah kini dapat menjadi barang yang berguna.