12 Negara dengan Krisis Sampah Plastik Terparah di Dunia

TPA Bantar Gebang di Jawa Barat. (Wikimedia Commons)

12 Negara dengan Krisis Sampah Plastik Terparah di Dunia

Riza Aslam Khaeron • 6 June 2026 11:55

Jakarta: Setiap menit, jutaan ton plastik diproduksi, dikonsumsi, dan dibuang di seluruh penjuru dunia.

Sebagian berakhir di tempat pembuangan akhir yang layak, sebagian didaur ulang — tetapi tidak sedikit pula yang berakhir mencemari sungai, pantai, tanah, bahkan masuk ke dalam tubuh ikan dan manusia. Krisis sampah plastik bukan lagi ancaman masa depan; ia adalah kenyataan pahit yang sedang berlangsung hari ini.

Namun, tidak semua negara menghadapi krisis ini dengan bobot yang sama. Ada negara yang menghasilkan plastik dalam jumlah raksasa karena skala ekonominya yang masif, ada yang kewalahan karena infrastruktur pengelolaan sampahnya belum memadai, dan ada pula yang terjebak di antara kedua kondisi tersebut.

Untuk memetakan konsumsi plastik dunia, setiap tahun EA – Earth Action, sebuah lembaga yang berbasis di Lausanne, Swiss, merilis laporan Plastic Overshoot Day yang terakhir diperbarui pada September 2025.

Laporan ini menggunakan indikator utama bernama Mismanaged Waste Index (MWI) — yaitu perbandingan antara sampah plastik yang tidak terkumpul atau tidak dikelola secara layak dengan total sampah plastik yang dihasilkan. Fokus pemetaan mencakup sampah plastik dari kemasan, tekstil, dan produk rumah tangga.

Laporan ini memperkirakan sekitar 72 juta ton sampah plastik tidak akan terkelola dengan baik pada tahun 2025 — dan 12 negara berikut ini menyumbang 60 persen dari angka fatal tersebut.

Adapun laporan EA menghitung Plastic Overshoot Day (hari kelebihan plastik), di mana lembaga tersebut menjelaskan dalam 248 hari awal tahun 2025, plastik dikelola dengan baik. Namun, dalam sisa 117 hari lainnya menjadi periode ketika sampah plastik yang dihasilkan dunia tidak lagi mampu dikelola.

Masing-masing negara dalam artikel ini menyumbang beberapa hari dalam laporan tersebut.

Lantas, negara mana saja yang menjadi kontributor utama krisis sampah global saat ini? Berikut adalah daftar 12 negara yang dilaporkan:
 

1. Tiongkok — 14,578 Juta Ton

Tiongkok menduduki posisi puncak sebagai negara dengan volume sampah plastik tidak terkelola terbesar di dunia, yakni sekitar 14,578 juta ton pada tahun 2025.

Angka ini tidak mengherankan mengingat Tiongkok juga merupakan produsen sampah plastik terbesar secara global — menghasilkan sekitar 56,949 juta ton sampah plastik per tahun, atau mencakup sekitar seperempat dari total sampah dunia.

Meskipun persentase salah kelolanya tidak setinggi beberapa negara lain, skala produksi yang luar biasa besar membuat volume absolutnya tetap menjadi yang tertinggi di bumi. Artinya, bahkan perbaikan kecil dalam sistem pengelolaan sampah di Tiongkok dapat memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kondisi pemulihan lingkungan global.
 

2. India — 7,707 Juta Ton

India berada di posisi kedua dengan sekitar 7,707 juta ton sampah plastik tidak terkelola — menyumbang sekitar 11 persen dari total global. Yang membuat situasi di India kian mengkhawatirkan adalah persentase salah kelolanya: sekitar 70 persen dari seluruh sampah plastik yang diproduksi di sana tidak dikelola dengan baik.

Kombinasi antara jumlah penduduk yang sangat besar, konsumsi plastik yang terus meningkat, dan keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah menjadikan India sebagai salah satu pusat krisis plastik dunia. India menyumbang sekitar 5 persen dari total sampah plastik global, tetapi dampak kerusakan lingkungannya jauh lebih besar daripada angka tersebut.
 

3. Rusia — 3,254 Juta Ton

Rusia menempati urutan ketiga dengan sekitar 3,254 juta ton sampah plastik tidak terkelola. Negara terluas di dunia ini masuk ke dalam daftar utama karena volume sampah plastiknya yang besar dibarengi dengan tingkat salah kelola yang masih cukup signifikan di lapangan.

Dalam kerangka laporan Plastic Overshoot Day, Rusia juga termasuk negara yang ikut mempercepat tercapainya titik ketika kapasitas pengelolaan sampah dunia terlampaui — sebuah indikator yang menggambarkan betapa beratnya beban plastik yang ditanggung oleh sistem lingkungan global setiap tahunnya.
 

4. Brasil — 2,714 Juta Ton

Brasil berada di posisi keempat dengan sekitar 2,714 juta ton sampah plastik tidak terkelola, menjadikannya negara Amerika Latin dengan kontribusi terbesar dalam daftar ini. Sebagai negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan aktivitas ekonomi yang sangat luas, Brasil menghasilkan volume sampah plastik yang sangat tinggi.

Tantangan terbesar Brasil terletak pada kesenjangan yang lebar antara volume konsumsi plastik masyarakat dan kapasitas sistem pengelolaan sampah yang ada. Ketika sampah-sampah ini tidak masuk ke jalur pengelolaan yang aman, sungai-sungai besar di Brasil — termasuk Sungai Amazon — menjadi rute alami yang membawa plastik langsung hanyut menuju lautan lepas.
 

5. Iran — 2,246 Juta Ton

Iran menempati urutan kelima dengan sekitar 2,246 juta ton sampah plastik tidak terkelola. Masalah di Iran tidak semata-mata soal konsumsi plastik masyarakatnya yang tinggi, tetapi juga mengenai kapasitas pengelolaan teknis yang belum mampu mengimbangi volume limbah yang dihasilkan setiap hari.

Ketika sampah tidak terkumpul secara merata atau hanya dikelola di fasilitas yang tidak memenuhi standar kelayakan, risiko kebocoran sampah ke lingkungan — baik tanah, sungai, maupun laut — menjadi sangat nyata. Kasus Iran menjadi pengingat penting bahwa krisis plastik pada dasarnya juga merupakan krisis kesiapan infrastruktur.
 

6. Meksiko — 2,190 Juta Ton

Meksiko berada di posisi keenam dengan sekitar 2,190 juta ton sampah plastik tidak terkelola. Dengan populasi lebih dari 130 juta jiwa dan tingkat konsumsi plastik yang tinggi, Meksiko menghadapi tekanan yang sangat besar untuk memastikan bahwa seluruh sampahnya masuk ke dalam sistem pengelolaan yang terkendali.

Ketimpangan yang mencolok antara kawasan perkotaan yang memiliki layanan pengelolaan sampah lebih memadai dan daerah pedesaan yang sering kali tidak terlayani sama sekali menjadi salah satu akar permasalahan utama di negara ini.
 
Baca Juga:
Pembersihan Sampah di Muara Angke Ditargetkan Selesai Besok
 

7. Vietnam — 2,080 Juta Ton

Vietnam menempati urutan ketujuh dengan sekitar 2,080 juta ton sampah plastik tidak terkelola, menjadikannya penyumbang terbesar pertama dari kawasan Asia Tenggara dalam daftar ini. Laporan juga mencatat bahwa Vietnam menyumbang sekitar 3,4 hari terhadap total hari overshoot global.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat, urbanisasi yang cepat, serta lonjakan konsumsi plastik sekali pakai dalambeberapa dekade terakhir memperbesar tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah di Vietnam yang belum sepenuhnya mampu mengimbangi laju modernisasi tersebut.
 

8. Indonesia — 1,952 Juta Ton

Indonesia berada di posisi kedelapan dengan sekitar 1,952 juta ton sampah plastik tidak terkelola pada tahun 2025. Dalam laporan ini, Indonesia menyumbang sekitar 3,2 hari terhadap total hari overshoot global — artinya, selama 3,2 hari dalam setahun, kapasitas pengelolaan plastik dunia terlampaui semata-mata karena kontribusi sampah dari Indonesia.

Tantangan terbesar Indonesia berkaitan erat dengan luasnya wilayah kepulauan yang menyulitkan pemerataan infrastruktur pengelolaan sampah dari pusat ke daerah.

Wilayah-wilayah pesisir yang belum memiliki sistem pengumpulan dan pengolahan sampah yang memadai menjadi titik rawan di mana plastik paling berisiko bocor ke lingkungan — termasuk mencemari perairan laut yang mengelilingi kepulauan Indonesia.


Foto: Collab Media/Pexels
 

9. Mesir — 1,820 Juta Ton

Mesir menempati posisi kesembilan dengan sekitar 1,820 juta ton sampah plastik tidak terkelola, menjadikannya penyumbang terbesar dari kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Konsentrasi populasi yang sangat padat di kawasan perkotaan seperti Kairo dan Alexandria menghasilkan volume sampah plastik harian yang sangat tinggi.

Ketika kapasitas pengelolaan tidak mampu mengimbangi laju produksi sampah, sebagian besar limbah plastik berisiko berakhir di Sungai Nil — salah satu sungai terpenting di dunia — yang pada akhirnya membawa sampah-sampah tersebut langsung bermuara ke Laut Mediterania.
 

10. Pakistan — 1,759 Juta Ton

Pakistan berada di posisi kesepuluh dengan sekitar 1,759 juta ton sampah plastik tidak terkelola. Kasus di Pakistan menjadi ilustrasi menarik bahwa krisis plastik tidak selalu ditentukan oleh konsumsi per kapita yang tinggi, melainkan oleh kombinasi antara jumlah penduduk yang sangat besar dan keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah yang mendasar.

Tingkat salah kelola yang tinggi membuat Pakistan masuk ke dalam daftar utama, meskipun konsumsi plastik per orangnya tidak setinggi negara-negara maju. Ini menjadi bukti nyata bahwa investasi dalam sistem pengelolaan sampah hulu-hilir sama pentingnya dengan kampanye untuk mengurangi konsumsi plastik.
 

11. Amerika Serikat — 1,640 Juta Ton

Posisi Amerika Serikat di urutan kesebelas mungkin mengejutkan banyak pihak — terutama karena AS merupakan produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia, dengan menghasilkan sekitar 32,352 juta ton sampah plastik per tahun atau sekitar 14 persen dari total global.

Namun, meskipun volume sampahnya sangat masif, persentase sampah yang tidak terkelola di AS jauh lebih kecil dibandingkan dengan banyak negara lain. Kontribusinya terhadap sampah plastik tidak terkelola di dunia diperkirakan hanya sekitar 2 persen — jauh lebih rendah daripada proporsi produksinya yang mencapai 14 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas sistem pengelolaan sampah yang baik sangat menentukan apakah plastik akan berakhir merusak lingkungan atau tidak.
 

12. Turki — 1,537 Juta Ton

Turki menutup daftar 12 besar ini dengan sekitar 1,537 juta ton sampah plastik tidak terkelola, dan menyumbang sekitar 2,5 hari terhadap total hari overshoot global. Selain harus mengelola sampah domestik, Turki juga dikenal sebagai salah satu negara penerima impor sampah plastik terbesar dari luar negeri.

Dalam konteks laporan ini, perdagangan sampah plastik internasional menjadi isu tersendiri. Ketika plastik diekspor ke negara yang kapasitas pengelolaannya belum memadai, risiko pencemaran lingkungan sebenarnya hanya berpindah tempat, bukannya berkurang secara global.

Daftar 12 negara ini memperlihatkan bahwa krisis sampah plastik global memiliki banyak wajah. Tiongkok dan Amerika Serikat masuk ke dalam daftar terutama karena skala produksinya yang raksasa. India, Pakistan, dan Indonesia masuk karena keterbatasan kapasitas pengelolaan. Sementara itu, Brasil dan Vietnam terperangkap akibat kombinasi dari kedua masalah tersebut.

Secara global, laporan dari EA – Earth Action memperkirakan bahwa sebanyak 31,9 persen sampah plastik dunia tidak akan terkelola pada akhir masa pakainya pada tahun 2025, yang berarti berisiko tinggi berakhir di sungai, danau, dan laut. Angka ini bukan sekadar statistik lingkungan biasa.

Ia adalah cerminan nyata dari seberapa serius dunia — dan masing-masing negara di dalamnya — dalam menangani salah satu krisis lingkungan paling krusial yang dihadapi bumi saat ini.

(Willy Haryono)