Magnifica Humanis: Ketika AI Mengguncang Peradaban Manusia

2 June 2026 13:24

Jakarta: Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence tidak hanya hadir sebagai wujud baru teknologi,  tetapi juga menimbulkan disrupsi yang mengguncang sektor lapangan pekerjaan dan mungkin juga peradaban manusia.

Perhatian terhadap perubahan disrupsi sosial akibat AI ini menjadi perhatian Paus Leo ke-14 yang dituangkan dalam encyclical letter atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai surat encyclic.

Surat ini adalah surat pastoral resmi yang ditulis oleh Paus untuk seluruh jemaat Katolik di seluruh dunia, para uskup atau mungkin umat manusia pada umumnya. Surat ini biasanya diterbitkan untuk memberikan panduan pengajaran, tanggapan atas isu sosial atau peneguhan iman. Dan dalam tulisannya dalam edisi kali ini Paus Leo menekankan pentingnya manusia tetap menjadi manusia dalam era perkembangan AI.

Magnifica humanis dan peradapan sosial manusia


Interpretasi seperti ini Paus Leo mengelaborasikannya tidak dengan abstrak dimana Paus menegaskan bahwa teknologi dan AI pada dasarnya adalah alat yang bisa dipakai untuk kebaikan tetapi juga kerusakan. Masalah utamanya bukan sekedar teknologinya, melainkan siapa yang menguasainya untuk tujuan apa digunakan dan apakah diarahkan demi martabat manusia atau hanya keuntungan dan kekuasaan. Di sisi lain Paus Leo juga berpandangan tentang korelasi AI dan dunia pekerjaan dengan menaruh perhatian besar pada otomatisasi, pengangguran, pekerjaan digital dan eksploitasi ekonomi berbasis AI.

Substansi pentingnya pekerjaan ini bukan cuma alat untuk mencari uang tetapi Paus melihat bahwa bekerja adalah bagian dari martabat manusia. Jadi sistem ekonomi ini tidak boleh mengorbankan manusia demi efisiensi dan pada prinsipnya AI boleh membantu manusia tetapi tidak boleh membuat manusia tidak berguna. 


Disrupsi sektor ketenagakerjaan akibat AI


Faktanya memang tidak sedikit perusahaan melakukan efisiensi akibat adanya teknologi AI. Dalam praktiknya paling banyak terjadi di perusahaan teknologi semisal perusahaan seperti Oracle melakukan PHK sekitar 30 ribu karyawan, Microsoft sekitar 6 ribu karyawan, dan Dell sekitar 12 ribu karyawan. 

Tidak berhenti sampai di sektor teknologi sebagai tidak hanya leading sector dalam AI ini tetapi juga tools AI bisa digunakan di lintas sektor, salah satunya dari sekian banyak yang sebenarnya telah melakukan. Seperti perusahaan perbankan dan keuangan yang dilakukan oleh Citigroup, dimana mereka menargetkan untuk melakukan efisiensi terhadap 20 ribu karyawan.

Sektor lapangan pekerjaan tumbuh akibat AI


Tetapi di sisi lain faktanya menunjukkan berdasarkan riset yang dilakukan oleh platform media sosial LinkedIn, lapangan pekerjaan baru juga berpotensi untuk tersedia. Namun memang diskursusnya masih perlu dibangkan untuk bisa menciptakan ahli.

Contohnya kita melihat bahwa demand terhadap tenaga kerja AI Engineer mengalami pertumbuhan 143% year on year dalam 2025-2026.  Dan juga Prom Engineer, ada sebuah istilah profesi yang disebut sebagai Prom Engineer, dimana kalau kita mengingat Prom itu sebenarnya itu adalah narasi yang kita coba ketik dari aplikasi Chatbot Artificial Intelligence untuk hasil yang kita inginkan dimana pertumbuhan terhadap demand ahli Prom Engineer ini menyentuh angka 777%. Dan juga dalam kaitannya kepada penggunaan AI di sektor pekerjaan di bidang pemerintahan juga AI Government Officer ini juga mengalami pertumbuhan di 1.257%.

Artinya meski terjadi efisiensi dalam sektor-sektor yang mungkin kita anggap secara ini konvensional, tetapi sebenarnya demand baru terhadap lapangan pekerjaan lainnya merupakan permintaan yang terus berkembang karena dalam faktanya bahwa WAF memproyeksikan 170 juta peran baru akan tercipta secara global pada tahun 2030. 


Perubahan pola interaksi sosial masyarakat


Pertanyaan bagaimana? Apakah Anda masih menggunakan artificial intelligence dalam konteks yang sederhana? Apakah Anda sudah mendapatkan literasi untuk menggunakannya lebih advance? 

Dalam kaitannya kepada membantu pekerjaan Anda tidak hanya kepada hal yang dasar tetapi sudah bisa mengkonstruksikan sebuah prompt dengan output yang mampu mempermudah Anda untuk kepekerjaan setiap harinya. Nah tidak hanya soal ekonomi , tapi di sisi lain Paus juga menyoroti dampak AI terhadap manusia dari berbagai aspek.

Salah satunya yang dibahas adalah perubahan sosial masyarakat dari perilaku manusia akibat Artificial Intelligence. Dan tentu kajiannya sudah terus dilakukan diantaranya ada beberapa jurnal yang telah kami rangkum. Di antaranya yang paling pertama ini adalah dari MIT Media and Open AI dimana perasaan ditemukan dalam jurnal ini Pemirsa, perasaan berbincang dengan chatbot yang sangat empatik dan responsif secara sosial ini justru berkaitan dengan tingkat yang lebih psikologis yaitu tingkat kesepian yang lebih tinggi dan sosialisasi yang lebih rendah dari yang kita tahu pada hari sebelumnya Pemirsa dimana interaksi sosial itu lebih banyak dilakukan secara langsung jadi mengalami penurunan.

Dan penggunaan harian yang tinggi dengan chatbot yang emosional jauh maupun yang dingin sama-sama berujung kepada dampak yang negatif dari temuan artikel pertama dari MIT Media Lab and Open AI ini. Sedangkan yang kedua dari Harvard Business School juga mengungkap bahwa dalam jurnal ini yang menemukan bahwa chatbot AI  mampu mengurangi rasa kesepian pengguna pada tingkat yang setara dengan manusia lain yang justru menggeser koneksi manusia yang lebih autentik. 

Kalau kita berbicara soal koneksi manusia yang autentik berkaitan dengan yang disampaikan oleh Harvard Business School adalah bagaimana kita secara konvensional bertemu dengan teman, misalkan ngopi, nongkrong dan lain sebagainya. Sehingga ada korelasi yang ditemukan secara saintifik maupun akademik berkaitan dengan keberadaan daripada chatbot AI menggeser koneksi manusia yang lebih autentik, bagaimana interaksi manusia yang lebih autentik.


Tanggapan pemimpin sejumlah negara 


Menanggapi hal-hal ini tentu pemimpin daripada negara-negara juga sudah mulai bersikap di antaranya dari India dimana mengatakan Narendra Modi mengatakan AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi tenaga kerja melainkan alat untuk memberdayakan manusia.  Hal serupa juga disampaikan oleh pemimpin negara lain dalam slide selanjutnya kami hadirkan, dimana Xi Jinping juga menyampaikan bahwa perkembangan AI ini harus memberi manfaat bagi umat manusia  dan tidak boleh menyebabkan pengangguran masal atau ketimpangan baru.

Bahkan menariknya kalau untuk China bahkan ada regulasi yang telah mengatur bagaimana perusahaan tidak boleh melakukan efisiensi secara masif untuk alasan penggunaan daripada artificial intelligence.

Tanggapan juga disampaikan oleh Emmanuel Macron dari Prancis mengatakan bahwa revolusi kecerdasan buatan tidak boleh menciptakan masyarakat dengan sedikit pemenang dan banyak korban.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)