1 October 2026 19:35
Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih menjelang dua tahun masa pemerintahannya. Perombakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat pencapaian target kinerja sekaligus memperkuat konsolidasi politik pemerintah.
Dalam reshuffle kali ini, sejumlah posisi strategis mengalami pergeseran. Sugiono diangkat menjadi Menko PMK menggantikan Pratikno. Sementara itu, Bahlil Lahadalia mendapat mandat baru sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi. Selain itu, Sekjen Partai Golkar M. Sarmuji turut ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita.
Analis Politik Adi Prayitno menilai perombakan kabinet ini memiliki dua dorongan utama, yakni percepatan eksekusi visi-misi Presiden dan penataan soliditas partai politik koalisi menuju 2029.
"Soal reshuffle kabinet hari ini ada dua hal mempercepat bagaimana visi-misi dan keinginan Presiden itu bisa diwujudkan secara signifikan, dan tentu adalah bagian dari konsolidasi-konsolidasi politik menuju di 2029," ujar Adi Prayitno dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 1 Oktober 2026.
Di sisi lain, Juru Bicara Partai Gerindra Wihadi Wijanto menegaskan bahwa reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden berdasarkan evaluasi berkala untuk memastikan penempatan pejabat yang tepat (the right man in the right place).
"Presiden melihat bahwa ini adalah the right man in the right place. Intinya keberhasilan Presiden didukung oleh para menteri, dan tentunya ini adalah satu hal kunci di mana perlunya totalitas dan loyalitas kepada Pak Prabowo untuk mendukung program-program Presiden," kata Wihadi.
Terkait pergantian Pratikno, Wihadi menepis isu yang mengaitkannya dengan spekulasi politik tertentu. Ia menyatakan bahwa penunjukan Sugiono didasari atas kesiapan program kerja yang selaras dengan Kementerian PMK demi meningkatkan efektivitas pemerintahan.