Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Sugiono. Foto: BPMI Setpres
Deretan Prestasi Sugiono di Kemenlu Sebelum Menjabat Menko PMK
Deretan Pencapaian Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri Sebelum jadi Menko PMK
Fajar Nugraha • 1 October 2026 17:54
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto melantik Sugiono sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Istana Negara, Jakarta pada Kamis 1 Oktober 2026.
“Bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus lurusnya demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara,” ucap Sugiono, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com.
Sebelumnya, Sugiono menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Merah Putih selama kurang lebih dua tahun atau sejak 21 Oktober 2024.
Sugiono merengkuh sejumlah pencapaian selama menjabat sebagai Menlu. Mulai dari mempererat hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat, hingga melindungi serta memulangkan WNI di luar negeri yang berada dalam kondisi terancam.
Kementerian Luar Negeri yang dipimpin Sugiono sukses memulangkan atau merepatriasi lebih dari 27 ribu WNI dalam kondisi terancam di luar negeri.
Di antaranya, lebih dari 1.200 WNI dari Myanmar yang terjaring online scam, sembilan aktivis Global Sumud Flotilla 2.0 yang ditangkap Israel, lebih dari 8 ribu WNI dipulangkan ke Indonesia dari Kamboja serta sejumlah WNI yang terancam akibat peperangan di Iran.
Sugiono juga memperluas pergaulan Indonesia di level internasional dengan aktif dalam berbagai forum multilateral.
Indonesia berhasil mendapat kepercayaan menjadi Presiden Dewan HAM PBB tahun 2026. Capaian yang pertama kali dalam sejarah Indonesia.
Sugiono lalu turut menjembatani kesuksesan Indonesia yang terpilih sebagai salah satu negara anggota Dewan Pemeriksa PBB (United Nations Board of Auditors) periode 2026-2032.
Kemudian, Indonesia diterima sebagai anggota penuh BRICS sejak Januari 2025. Hanya dua bulan setelah Sugiono menyampaikan kehendak Indonesia untuk bergabung pada Oktober 2024.
Pada September 2026, Sugiono mewakili Presiden Prabowo untuk menyampaikan pernyataan Indonesia dalam Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di New York, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Sugiono menyampaikan dukungannya kepada Palestina serta penguatan multilateralisme, reformasi PBB dan pentingnya ketahanan nasional bagi ketahanan kawasan.
Selama dua tahun terakhir, Sugiono senantiasa merepresentasikan kehadiran Indonesia di beragam forum multilateral seperti ASEAN, G20, G7, World Economic Forum, KTT Perdamaian Sharm El-Sheikh, KTT BRICS, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), D8, APEC dan seterusnya.
Di bidang diplomasi ekonomi, Sugiono menjembatani berbagai perjanjian dagang antara Indonesia dengan sejumlah negara dan kawasan.
Di antaranya, Indonesia - European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia - Canada CEPA, Indonesia - Peru CEPA, Indonesia - Chile CEPA, Indonesia - Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (FTA).
Kemudian Indonesia - Iran Preferential Trade Agreement, Indonesia - Mauritius Preferential Trade Agreement, Indonesia - Tunisia Preferential Trade Agreement, Indonesia - Japan Economic Partnership Agreement.
Sugiono pun turut andil dalam penggunaan QRIS di Thailand, Tiongkok, Korsel dan Jepang.
Selama menjadi Menteri Luar Negeri, Sugiono terlibat dalam terciptanya kerja sama ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pertahanan, serta teknologi antarnegara selama dua tahun terakhir. Baik dengan negara sahabat dari Asia, Eropa, Australia, Amerika, Afrika hingga Timur Tengah.
Semuanya dilakukan sesuai dengan Peta Jalan Postur Diplomasi Tangguh menuju Indonesia Emas 2045 yang disusun Kementerian Luar Negeri selama Sugiono memimpin.
Atas jasanya di bidang diplomasi, Sugiono lantas dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Prabowo Subianto.