Hujan Sudah Turun, Mengapa Asap Karhutla Masih Muncul Lagi?

27 October 2026 22:53

Jakarta: Hujan hasil operasi modifikasi cuaca mulai turun di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, turunnya hujan belum sepenuhnya mengakhiri ancaman kebakaran. Sejumlah wilayah yang sebelumnya diguyur hujan bahkan dilaporkan kembali menghadapi kabut asap karena distribusi hujan belum merata.

Pakar forensik kebakaran hutan, Profesor Bambang Hero Saharjo, mengingatkan masyarakat dan tim pemadam agar tidak menganggap hujan sebagai tanda berakhirnya karhutla. Ia menyebut masih menerima laporan dari lapangan mengenai kemunculan asap di sejumlah daerah.

“Kami juga mendapat laporan ya dari ground, bahwa beberapa daerah yang tadinya hujan sekarang sedang mulai berhadapan dengan asap lagi,” kata Bambang dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa 27 Oktober 2026. 

Menurut Bambang, kondisi tersebut terjadi karena hujan belum menyeluruh dan masih bersifat sporadis atau parsial. Akibatnya, masih terdapat wilayah yang belum mendapatkan cukup air untuk membantu menekan kebakaran.

“Karena seperti itulah polanya, karena hujan ini belum menyeluruh, belum merata, masih bersifat sporadis atau parsial,” ujarnya.

Bambang juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino masih menjadi tantangan dalam pengendalian karhutla. Karena itu, air hujan yang telah turun perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu pembasahan lahan, terutama di kawasan gambut yang rentan terbakar.

Sementara itu, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan hujan memang dapat membantu menekan titik panas atau hotspot. Hujan meningkatkan kelembapan vegetasi dan tanah, menurunkan suhu, serta mengurangi peluang api menyebar.

Namun, efektivitas hujan bergantung pada intensitas, durasi, luas cakupan wilayah yang diguyur, dan kondisi lahan yang terbakar.

“Jadi tidak sekadar lihat hujannya, tapi apakah intensitasnya seperti apa, durasinya, luas cakupan hujannya, itu harus dipahami,” ujar Daryono.

Ia menambahkan, operasi modifikasi cuaca tidak menciptakan awan dari atmosfer yang kering, melainkan mengoptimalkan potensi awan dan hujan yang sudah tersedia.

Daryono menyampaikan data Kementerian Kehutanan yang menunjukkan jumlah hotspot di enam provinsi prioritas karhutla turun dari 226 menjadi 26 titik pada 25 Oktober, atau berkurang 88,5 persen dalam sehari. Meski demikian, ia menegaskan penurunan tersebut perlu diikuti pemantauan kondisi kebakaran dan kelembapan lahan.

“Jadi pemadaman darat dan udara terus dilakukan oleh pemadam kebakaran, khususnya lahan gambut. Kita harus pastikan bara di bawah permukaan itu benar-benar padam agar kebakaran tidak muncul kembali,” kata Daryono.

Di sisi lain, relawan pemadam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Muhammad Haikael Febrianto, mengatakan hujan di wilayahnya telah turun selama sekitar dua hari. Namun, menurut pengamatannya, durasi hujan yang singkat belum cukup untuk menurunkan titik api.

“Kalau menurut saya menurun itu enggak. Cuma kurang lama aja,” ujar Haikael.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X