BPS Rilis Kinerja Ekonomi: Ekspor Tumbuh, Impor Meningkat, Pasokan Pangan Jadi Perhatian

Patrick Pinaria • 3 October 2026 10:00

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah perkembangan ekonomi Indonesia hingga September 2026, mulai dari inflasi, kinerja perdagangan, hingga potensi produksi padi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan inflasi September 2026 tercatat sebesar 0,30 persen secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,28 persen.

Inflasi terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,88 persen. Adapun komponen harga bergejolak mengalami inflasi 1,46 persen dan memberikan andil inflasi terbesar, yaitu 0,24 persen.

"Inflasi September 2026 yang sudah saya sebutkan tadi yaitu 0,30 persen utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak," kata Ateng.

Sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.

Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor Indonesia juga mencatat pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor mencapai USD193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada periode yang sama, nilai impor Indonesia tercatat sebesar USD186,39 miliar atau tumbuh 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
 



Ateng mengatakan nilai impor migas mencapai USD29,30 miliar atau tumbuh 39,03 persen. Sementara itu, impor nonmigas tercatat sebesar USD157,09 miliar atau tumbuh 16,83 persen.

"Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total nilai impor mencapai USD186,39 miliar, naik 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Ateng.

Selain perkembangan inflasi dan perdagangan, BPS mencatat potensi produksi padi pada periode September hingga November 2026 sebesar 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG).

Angka tersebut diperkirakan turun 1,66 juta ton GKG atau 11,96 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jika dikonversi menjadi beras, produksi diperkirakan turun 11,95 persen atau berkurang sekitar 0,96 juta ton.

BPS menyebut perkembangan produksi padi masih dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti dampak El Nino, kekeringan, serangan hama, banjir, hingga pergeseran waktu panen.

Pergerakan inflasi dan ketersediaan pasokan pangan menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau hingga akhir 2026.

(Patrick Pinaria)


Close Ads X
Close Ads X