BPS Catat Pariwisata Makin Pulih, Perdagangan dan Pertanian Tetap Tumbuh

Gedung Badan Pusat Statistik. (Dok. BPS)

BPS Catat Pariwisata Makin Pulih, Perdagangan dan Pertanian Tetap Tumbuh

Duta Erlangga • 1 October 2026 21:36

Jakarta: Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia terus mendekati level sebelum pandemi. Hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan mencapai 10,58 juta, sedikit di bawah capaian periode yang sama pada 2019 sebanyak 10,71 juta kunjungan. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan capaian tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Januari-Agustus sejak 2020. 

“Jumlah kunjungan wisman pada Januari-Agustus 2026 mencapai 10,58 juta kunjungan. Angka ini sudah mendekati capaian pada periode yang sama 2019 sebesar 10,71 juta kunjungan,” jelas Ateng Hartono, Kamis, 1 Oktober 2026. 


Perkembangan Pariwisata Agustus 2026. (Dok. BPS)

Pada Agustus 2026, jumlah kunjungan wisman mencapai 1.599.660 kunjungan atau meningkat 6,27% dibandingkan Agustus 2025. 

Wisatawan berpaspor Malaysia menjadi penyumbang kunjungan terbesar dengan 296,23 ribu kunjungan atau 18,52% dari total kunjungan. Berikutnya Australia dengan 171,94 ribu kunjungan dan Tiongkok sebanyak 162,57 ribu kunjungan. 

Pertumbuhan kunjungan dari ketiga negara tersebut juga masih tercatat positif. Secara tahunan, kunjungan wisman pemegang paspor Malaysia pada Agustus 2026 tumbuh 28,95%, Tiongkok 15,57%, dan Australia 10,41%. 

Meski jumlah kunjungan terus meningkat, BPS mencatat laju pertumbuhan wisman mulai melambat. Secara kumulatif, kunjungan Januari-Agustus 2026 tumbuh 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pada periode Januari-Agustus 2025 yang mencapai sekitar 10,39% maupun periode yang sama pada tahun 2024 sebesar 20,38%. 
 


Biaya Perjalanan Jadi Pertimbangan 

Perkembangan kunjungan wisman juga tidak terlepas dari sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keputusan perjalanan. Harga tiket penerbangan dari negara asal menuju Indonesia maupun biaya penerbangan domestik menjadi salah satu pertimbangan wisatawan dalam menentukan tujuan dan lama perjalanan. 

Perkembangan geopolitik global juga dapat memengaruhi keputusan perjalanan, terutama untuk perjalanan jarak jauh lintas negara dan benua atau penerbangan yang melintasi kawasan tertentu seperti Timur Tengah. 

Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian wisatawan menunda perjalanan atau memilih destinasi yang lebih dekat. 
 

Inflasi September 2026 

Di sisi lain, BPS mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,31. 

Inflasi bulanan tercatat 0,30%, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,17%. 

Inflasi inti secara tahunan tercatat 2,84%, dengan inflasi bulanan 0,10% dan inflasi tahun kalender 2,07%. 


Perkembangan Indeks Harga Konsumen September 2026. (Dok. BPS) 

Pada tingkat provinsi, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 7,59% dengan IHK 116,58. Sementara inflasi terendah tercatat di Sumatra Selatan sebesar 2,55% dengan IHK 112,21. 

Untuk tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 9,05%, sedangkan terendah di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebesar 1,04%. 
 

Harga Perdagangan Besar Naik 

BPS juga mencatat perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional secara tahunan pada September 2026 sebesar 6,76% dibandingkan September 2025. 

Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada kelompok bijih besi dan mineral serta listrik, gas, dan air yang mencapai 14,61%. 


Perkembangan Indeks Harga Perdagangan Besar. (Dok. BPS) 

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga secara tahunan antara lain solar industri, elpiji nonsubsidi, beras biasa, minyak pelumas, dan solar transportasi. 

Secara bulanan, IHPB September 2026 naik 0,62%, sedangkan secara tahun kalender meningkat 5,73%. 

Untuk kelompok bangunan atau konstruksi, IHPB secara tahunan naik 9,63%. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga aspal, baja tulangan, semen, batu pecahan, dan pasir. 
 

Ekspor Naik, Impor Tumbuh Lebih Tinggi 

Dari sektor perdagangan, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai USD193,64 miliar atau meningkat 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Ekspor nonmigas naik 5,48% menjadi USD185,63 miliar. Khusus Agustus 2026, nilai ekspor mencapai USD26,61 miliar atau naik 6,72% secara tahunan. Ekspor nonmigas pada periode tersebut meningkat 7,23% menjadi USD25,62 miliar. 


Perkembangan Indeks Harga Perdagangan Besar. (Dok. BPS) 

Sementara itu, nilai impor Januari-Agustus 2026 mencapai USD186,39 miliar atau tumbuh 19,84%. Impor nonmigas naik 16,83% menjadi USD157,09 miliar. 
 

Pada Agustus 2026, nilai impor mencapai USD23,06 miliar atau meningkat 19,09% secara tahunan. Impor nonmigas naik 17,20% menjadi USD19,53 miliar. 

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2026 mencatat surplus USD7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar USD28,54 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit USD21,29 miliar. 
 

Produksi Jagung Meningkat 

Pada sektor pertanian, luas panen jagung pipilan pada Agustus 2026 mencapai 0,29 juta hektare. Angka tersebut meningkat 0,05 juta hektare atau 23,60% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 0,23 juta hektare. 


Luas Panen dan Produksi Jagung di Indonesia. (Dok. BPS) 

Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% pada Agustus 2026 mencapai 1,74 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 0,34 juta ton atau 24,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,39 juta ton. 

BPS memperkirakan potensi luas panen jagung pipilan pada September-November 2026 mencapai 0,54 juta hektare dengan potensi produksi 3,49 juta ton jagung pipilan kering dengan kadar air 14%. 
 

NTP Naik 1,49% 

Perkembangan kesejahteraan petani juga terlihat dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2026 menjadi 131,11 atau naik 1,49% dibandingkan bulan sebelumnya. 

Kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 1,93%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,44%. 


Perkembangan Nilai Tukar Petani September 2026. (Dok. BPS) 

Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada September 2026 juga meningkat 0,53%. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. 

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional mencapai 135,68 atau meningkat 1,76% dibandingkan bulan sebelumnya. 

Pada September 2026, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan mencapai Rp15.185 per kilogram atau naik 0,81%. Sementara harga beras kualitas medium mencapai Rp14.018 per kilogram atau meningkat 0,87%. 

(Patrick Pinaria)