Pertemuan Empat Jam Para Presiden

8 March 2026 21:12

Presiden RI Prabowo Subianto menggelar agenda silaturahmi dan diskusi kebangsaan bersama deretan tokoh nasional di Istana Negara, Jakarta. Pertemuan krusial yang berlangsung selama hampir empat jam tersebut secara khusus membedah dampak eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta merumuskan langkah taktis Indonesia di panggung global.

Jamuan makan malam kenegaraan ini menjadi momen bersejarah bertemunya para pemimpin lintas generasi. Presiden Prabowo menyambut langsung kehadiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Turut hadir melengkapi formasi kepemimpinan nasional adalah jajaran mantan wakil presiden, yakni Jusuf Kalla, Boediono, dan Ma'ruf Amin.

Selain mantan kepala negara, diskusi ini juga diperkuat oleh kehadiran para mantan Menteri Luar Negeri, pimpinan organisasi ekonomi, serta jajaran ketua umum partai politik di parlemen. Beberapa pimpinan partai yang tampak hadir antara lain Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
 

Baca juga:
Timteng Memanas, Pemerintah Tangguhkan Sementara Pembahasan di Dewan Perdamaian

Navigasi Ekonomi dan Manuver Strategis

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo memaparkan situasi geopolitik terkini untuk meminta pandangan komprehensif dari para tokoh. Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, yang turut hadir dalam diskusi itu mengibaratkan posisi Indonesia saat ini ibarat kapal yang harus menavigasi rute berbahaya di antara banyak karang. Fokus utama dari diskusi tersebut adalah mengalkulasi potensi efek domino perang terhadap stabilitas ekonomi dunia, terutama yang berkaitan dengan guncangan rantai pasok minyak dan gas, serta durasi konflik yang belum dapat diprediksi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menilai bahwa Presiden Prabowo telah menunjukkan cara berpikir yang konstruktif dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, untuk menyikapi ancaman geopolitik yang begitu besar, Indonesia tidak bisa sekadar menggunakan pendekatan linear. Diperlukan manuver taktis dan strategis tingkat tinggi, di mana menjaga dan menegaskan hubungan diplomasi dengan semua pihak yang bertikai harus menjadi prioritas utama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)