Transisi energi kini menjadi salah satu agenda penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di Indonesia. Isu ini turut menjadi sorotan dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar oleh Metro TV dan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Diskusi menekankan transisi energi tidak cukup hanya menambah kapasitas energi bersih, tetapi juga harus mampu menggerakkan pertumbuhan industri dan membuka ruang investasi.
Agenda 100 gigawatt peak menjadi salah satu langkah besar dalam mempercepat pengembangan energi surya di Indonesia. Target ini sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan nilai industri baru, mulai dari investasi, teknologi, infrastruktur, hingga penciptaan lapangan kerja.
Meski begitu, transisi energi juga menuntut kesiapan industri untuk menurunkan emisi, terutama pada sektor-sektor dengan intensitas emisi tinggi. Di sinilah teknologi dekarbonisasi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju ekonomi rendah karbon, salah satunya adalah carbon capture and storage atau CCS, teknologi yang memungkinkan emisi karbon dari kegiatan industri ditangkap, diangkut, dan disimpan secara permanen di dalam formasi geologis.
ExxonMobil sebagai salah satu perusahaan energi global yang mengembangkan solusi rendah karbon menempatkan CCS sebagai salah satu teknologi utama dalam upaya dekarbonisasi industri di Indonesia. ExxonMobil bekerja sama dengan Pertamina untuk mengkaji potensi pengembangan pusat CCS.
Pengembangan CCS dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu industri menurunkan emisi tanpa menghentikan aktivitas ekonomi dan
industrialisasi.