9 September 2026 00:35
Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang mengangkat tema "Industrialisasi Transisi Energi Melalui Agenda 100 GWp". Diskusi yang dipandu oleh moderator Jessica Wulandari ini menghadirkan perspektif lintas sektor dari legislatif, pemerintah, dan lembaga riset ekonomi untuk membedah langkah strategis Indonesia dalam beralih dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT).
Fokus utama pembicaraan adalah ambisi besar pemerintah untuk membangun kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga mencapai 100 Gigawatt peak (GWp) sebagai solusi kedaulatan energi nasional.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menekankan urgensi transisi ini mengingat beban ekonomi yang berat akibat ketergantungan pada impor BBM yang mencapai 1,1 juta barel per hari.
Di sisi lain, dari Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P. Hutajulu memaparkan peta jalan program 100 GWp yang selaras dengan visi Asta Cita, di mana proyeksi pembangunan PLTS dalam skala masif ini diperkirakan mampu memberikan penghematan fiskal yang signifikan serta membuka ratusan ribu lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Transformasi ini tidak hanya dipandang dari sisi teknis pemasangan panel surya, tetapi juga dari kacamata penguatan industri. Imaduddin Abdullah dari INDEF menyoroti pentingnya Indonesia membangun industri manufaktur domestik agar tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing. Ia menekankan perlunya kesiapan rantai pasok, pembiayaan yang berkelanjutan, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Diskusi ini juga menyoroti tantangan nyata berupa harga listrik EBT yang masih sulit bersaing dengan batubara, sehingga diperlukan regulasi dan insentif yang kuat untuk menciptakan ekosistem energi hijau yang kompetitif.
Seluruh panelis sepakat bahwa agenda 100 GWp merupakan pilar krusial bagi masa depan ekonomi Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai angka 8%, sekaligus mewujudkan komitmen Indonesia terhadap lingkungan melalui capaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Transisi ini adalah upaya kolektif untuk memastikan Indonesia tetap tangguh di tengah gelombang perubahan global dengan mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam matahari sebagai modal utama kemandirian energi.