9 September 2026 11:31
Jakarta: Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga Jakarta dan wilayah sekitarnya. Di tengah kondisi tersebut, aktivitas masyarakat memang ikut terdampak. Namun, bagi sebagian driver ojek online (ojol), berhenti bekerja bukan perkara sederhana. Di balik masker dan helm yang menutup rapat, mereka tetap menembus jalan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Sejumlah driver ojol masih beraktivitas dan menunggu pesanan meski sebaran abu vulkanik Anak Krakatau masih menjadi perhatian.
Gunung Anak Krakatau mulai kembali mengalami erupsi pada Jumat, 4 September 2026 malam. Badan Geologi mencatat erupsi menerus dimulai pada pukul 23.07 WIB dan berlangsung sekitar 25 jam hingga Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas gunung kembali didominasi erupsi strombolian. Status Gunung Anak Krakatau juga masih berada pada Level III atau Siaga, yang telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Dampak erupsi juga terasa hingga wilayah Jabodetabek. BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga wilayah lain. Pada 7 September, abu masih terpantau pada beberapa lapisan atmosfer, sementara masyarakat di wilayah terdampak diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker dan kacamata pelindung.
Di Jakarta, Pemprov DKI melakukan sejumlah langkah mitigasi, termasuk penyemprotan water mist di sejumlah koridor utama seperti Monas, Thamrin-Sudirman, hingga ruas jalan di lima wilayah administrasi. Pada 8 September, BMKG juga menyatakan delapan bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik telah kembali beroperasi setelah hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi aman.
Meski kondisi abu di Jakarta menunjukkan penurunan, aktivitas masyarakat tetap dilakukan dengan kewaspadaan. Salah satunya para driver ojol yang sehari-hari mengandalkan jalanan untuk mendapatkan penghasilan.
Hera, Ketua Shelter Gojek Sudirman, mengatakan dirinya tetap bekerja seperti biasa karena kebutuhan hidup harus tetap berjalan. Untuk melindungi diri, ia menggunakan masker dan menutup helm rapat-rapat.
“Sebenarnya sih karena driver itu memang kita tetap harus jalan karena kebutuhan. Kita benar-benar harus pakai masker dan tutup helm harus ditutup. Terasa, ada semacam debu yang tajam ke mata, ke muka,” ujar Hera kepada Metrotvnews.
Menurut Hera, aktivitas pesanan dari pelanggan anak sekolah sempat berkurang setelah pembelajaran dilakukan dari rumah. Namun, pesanan dari pekerja kantoran relatif masih berjalan. Ia juga mengatakan pihak aplikator telah memberikan imbauan kepada para driver melalui aplikasi agar lebih berhati-hati. Driver diminta tidak mengambil pesanan apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan.
“Jadi kita diberi notif, semua driver dikasih notif. Jadi kita harus hati-hati. Kalau tidak memungkinkan untuk nge-bid, tidak usah nge-bid. Dan memang harus protect diri dengan masker, dengan kacamata, atau dengan menutup helm secara full,” katanya.
Berbeda dengan Hera, Agus, driver ojol lainnya, mengaku aktivitasnya relatif berjalan normal. Ia tetap bekerja karena kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi.
“Tetap harus bekerja, Kak, karena gimana pun juga hidup harus berjalan, dapur harus tetap ngebul,” ujar Agus.
Namun, Agus mengaku merasakan langsung dampak abu vulkanik. Ia mengatakan kondisi debu terasa cukup mengganggu hingga membuat matanya perih ketika membuka helm.
“Perubahan kondisi udara jelas. Iya, kemarin berasa banget debunya. Kemarin kalau helm dibuka, mata perih,” katanya.
Untuk perlindungan, Agus memilih menggunakan masker bedah. Menurutnya, masker menjadi perlindungan sederhana yang bisa digunakan selama tetap bekerja di jalan.
Tidak semua driver memilih untuk terus menerima pesanan seperti biasa. Yogi, driver ojol lainnya, mengaku mengurangi aktivitas ketika sebaran abu sedang tebal. Ia memilih berhenti sementara dan baru kembali menerima pesanan ketika kondisi dirasa lebih baik. Yogi juga lebih memilih mengambil layanan pengiriman barang dibandingkan mengangkut penumpang.
“Pas lagi banyak abu ya kita nggak narik. Istirahat sebentar lah. Secara langsung hampir semuanya daerah. Ada abu, saya nggak sepenuh jam seperti biasa. Ngogojeknya berkurang. Kebetulan kemarin saya ambil GoSend,” ujar Yogi.
Menurut Yogi, informasi mengenai kondisi abu vulkanik juga disampaikan melalui aplikasi driver sehingga pengemudi dapat menyesuaikan aktivitasnya.
Teman MTVN Lens, kisah Hera, Agus, dan Yogi menunjukkan bagaimana sebaran abu vulkanik tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat, tetapi juga pada mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.
Nah, di tengah kondisi yang belum sepenuhnya normal akibat sebaran abu Anak Krakatau, para driver ojol tetap berusaha mencari nafkah dengan cara masing-masing. Ada yang tetap bekerja dengan perlindungan tambahan, ada pula yang memilih mengurangi aktivitas ketika abu menebal. Bagi mereka, keselamatan tetap penting, tetapi kebutuhan sehari-hari juga tidak bisa begitu saja berhenti.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)