Jakarta: Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan aktivitas vulkaniknya menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini mengingatkan kembali pada sejarah panjang kawasan Krakatau yang pernah mengalami letusan besar pada 1883 dan tsunami pada 2018 akibat runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau.
Gunung Krakatau dan penerusnya, Anak Krakatau, merupakan bentang alam bersejarah yang keberadaannya memegang peranan penting dalam geologi dunia. Namun, sebelum dikenal sebagai Anak Krakatau yang masih aktif hingga saat ini, kawasan tersebut memiliki perjalanan geologi yang panjang.
Lantas, bagaimana kisah terbentuknya Krakatau hingga lahirnya Anak Krakatau?
Mengenal Lebih Dekat Krakatau dan Anak Krakatau
Ada sejumlah aspek menarik dari dinamika
Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, mulai dari proses pembentukan, letusan besar, hingga perubahan kawasan setelah aktivitas vulkanik. Berikut deretannya:
Gunung Krakatau terbentuk akibat zona subduksi dari pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Terletak di Selat Sunda, gunung ini berada dalam satu gugusan kepulauan vulkanik bersama Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung. Kawasan tersebut menjadi bagian dari jalur gunung api yang memiliki aktivitas vulkanik tinggi dan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Pada 26–27 Agustus 1883, Krakatau mengalami erupsi terhebat dalam sejarah modern. Dahsyatnya ledakan terdengar hingga ribuan kilometer, memicu gelombang tsunami masif, serta menyebarkan abu vulkanik ke atmosfer yang berdampak pada kondisi iklim global. Peristiwa tersebut juga menyebabkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau runtuh dan meninggalkan perubahan besar pada kawasan di sekitarnya.
Pascaerupsi 1883 yang menghancurkan sebagian besar tubuh induknya, aktivitas vulkanik dasar laut memunculkan gunung api baru pada tahun 1927. Gunung muda yang kemudian diberi nama Anak Krakatau ini terus tumbuh secara bertahap dan menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Pertumbuhan Anak Krakatau membuat bentuk dan ketinggian gunung tersebut terus mengalami perubahan seiring aktivitas vulkaniknya.
-
Perubahan Morfologi dan Tsunami 2018
Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau akibat aktivitas erupsi memicu tsunami di Selat Sunda. Peristiwa tersebut menyebabkan perubahan bentuk fisik dan ketinggian gunung secara signifikan. Peristiwa keruntuhan tubuh gunung dan tsunami Selat Sunda ini terjadi pada Desember 2018, bukan Desember 2022.
-
Daya Tarik Ekosistem dan Penelitian
Meskipun aktivitas vulkaniknya berisiko bagi lingkungan sekitar, kawasan
Anak Krakatau menjadi laboratorium alam yang sangat berharga bagi riset vulkanologi dan penelitian suksesi ekologi, serta tujuan wisata terbatas. Kawasan ini juga memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk mengamati bagaimana kehidupan kembali berkembang di wilayah yang sebelumnya terdampak aktivitas vulkanik.
Teman MTVN Lens, Perjalanan sejarah Krakatau hingga
Anak Krakatau membuktikan betapa besarnya kekuatan alam sekaligus pesona geologi yang dimiliki Indonesia. Nah, di tengah aktivitas Anak Krakatau yang kembali menjadi perhatian, sejarah kawasan ini menunjukkan bahwa perubahan gunung api merupakan bagian dari dinamika alam yang terus berlangsung dan penting untuk dipahami.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)