Skandal Riset Palsu WNI di Denmark, Diduga Gunakan AI dan Identitas Berbeda

29 May 2026 17:43

Dunia akademik Indonesia tengah digegerkan oleh dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI) dalam forum internasional Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD), di Copenhagen, Denmark.

Kasus ini menjadi sorotan karena diduga melibatkan fabrikasi data penelitian berbasis kecerdasan buatan atau AI hingga penggunaan identitas berbeda saat presentasi ilmiah.

Kasus tersebut pertama kali diungkap oleh ilmuwan muda Indonesia Wa Ode Dwi Daningrat, yang kini menempuh studi doktoral bidang Clinical Medicine di University of Oxford. Ia mengaku mulai curiga setelah melihat sejumlah peserta asal Indonesia mengirimkan 4 hingga 5 abstrak sekaligus sebagai penulis utama dalam konferensi tersebut.

“Ada beberapa nama yang cukup menarik perhatian karena beberapa nama ini mengumpulkan abstrak 4 sampai 5 abstrak sebagai first author yang menurut pengalaman saya itu sangat tidak biasa,” ujar Wa Ode dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jum'at 29 Mei 2026. 

Kecurigaan semakin kuat setelah dirinya dan rekan-rekannya memeriksa poster penelitian serta mengikuti presentasi peserta yang diduga terlibat. Mereka menemukan orang yang sama melakukan presentasi berbeda menggunakan nama berbeda.

“Di hari kedua kami mengikuti presentasi kedua yang disampaikan oleh orang yang sama namun dengan nama yang berbeda,” ungkapnya.

Menurut Wa Ode, terduga pelaku juga tidak mampu menjelaskan detail data penelitian maupun figur dalam poster ilmiah yang dipresentasikan. Bahkan disebutkan bahwa materi presentasi dibuat oleh pihak lain.

“Ketika tidak bisa dijelaskan dan disampaikan bahwa dia tidak membuat semua poster yang disampaikan, tidak dia buat sendiri namun dibuat oleh orang lain,” lanjutnya.


Modus yang dilakukan terbilang nekat. Terduga pelaku diduga mengganti identitas dan nametag saat sesi presentasi berbeda hanya dengan mengganti warna jilbab. Selain itu, penelitian yang dipresentasikan juga diduga menggunakan data fabrikasi berbasis AI, termasuk klaim pengumpulan data primer di wilayah Andes, Peru.

Wa Ode berharap pemerintah Indonesia segera membangun mekanisme pelaporan dugaan pelanggaran akademik agar kasus serupa dapat ditangani lebih cepat dan transparan.

“Harapannya dari pemerintah Indonesia agar ada sistem atau mekanisme pelaporan terkait dugaan-dugaan seperti ini dan juga ada mekanisme yang jelas,” katanya.

Menanggapi kasus tersebut, Universitas Negeri Yogyakarta membenarkan tiga nama yang disebut dalam pemberitaan tercatat sebagai alumni kampus tersebut, yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro mengatakan pihak kampus masih melakukan penelusuran dan konfirmasi kepada para alumni yang diduga terlibat.

“Pak Rektor itu kemarin dhawuh (sudah perintah), kita telisik, konfirmasi, tabayyun. Wah, intinya kita cari informasi sebanyak mungkin,” ujarnya.

Ia menambahkan, karena status mereka merupakan alumni, kampus tidak bisa langsung memberikan sanksi akademik seperti terhadap mahasiswa aktif. Namun, UNY membuka kemungkinan membawa persoalan ini ke komite etik sambil menunggu arahan dari kementerian.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)