Miris! Dugaan Riset Palsu, Kredibilitas Peneliti Indonesia Jadi Taruhan

29 May 2026 07:59

Jakarta: Dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh warga negara Indonesia di Denmark memicu keprihatinan besar.  Kasus ini bukan hanya menyangkut etika ilmiah, tapi juga menyentuh kredibilitas dan nama baik peneliti Indonesia di mata internasional. Sejumlah WNI diduga mengikuti konferensi ilmiah internasional dengan identitas palsu, afiliasi fiktif, hingga penelitian yang diduga tidak pernah dilakukan.


Dugaan pemalsuan riset oleh WNI di Denmark


Kasus ini muncul dalam ajang ISPPD atau International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease. Konferensi ilmiah internasional ini digelar di Copenhagen, Denmark pada 17 hingga 21 Mei 2026, dimana forum ini dikenal sebagai salah satu ajang penting bagi para ilmuwan dan peneliti di bidang pneumonia dan juga penyakit infeksi. Namun di tengah konferensi muncul dugaan adanya sekelompok warga negara Indonesia yang mengikuti acara dengan identitas dan penelitian palsu. Mereka diidentifikasi dengan inisial P, RF, dan RW. Dimana dugaan ini pun menjadi viral setelah sejumlah peserta dan peneliti internasional menyampaikan adanya kejanggalan. Mulai dari identitas peserta, kemudian afiliasi dari lembaga yang mereka atasnamakan hingga validitas dari penelitian yang dipresentasikan. 

Sejumlah laporan pun mengatakan bahwa para terduga pelaku ini diduga mengincar dana travel grant. Yaitu bantuan pembiayaan yang umum diberikan dalam konferensi internasional untuk membantu para peserta bisa hadir dan mempresentasikan hasil temuan mereka di luar negeri. Jika terbukti benar maka kasus ini tidak hanya menyangkut etika akademik saja tetapi juga dapat masuk ke dalam ranah penipuan. 


Dugaan pemalsuan identitas


Dalam konferensi tersebut, artinya ada dua hal yang menjadi sorotan. Yang pertama soal dugaan pemalsuan identitas. Karena terduga pelaku diduga melakukan berbagai modus untuk menyamarkan identitas. Mereka disebut memalsukan identitas dan berganti-ganti nama. Bahkan terdapat dugaan mengubah penampilan agar sulit untuk dikenali.

Salah satu gambar ramai dibahas di media sosial. Gambar menunjukkan adanya seseorang WNI berinisial P yang kemudian mempresentasikan dalam sebuah sesi yang dinamakan spotlight. Dan kemudian mengatasnamakan dua nama yang berbeda. Dengan jeda waktu 10 menit saja kemudian berganti jilbab dan juga berganti nametag atau kartu identitas. Selain itu dua nama lembaga yang juga digunakan menimbulkan kecurigaan. Yaitu nama lembaga AI Biomedicine Research Group dan IMCDS Biomed Research Foundation Jakarta.

Kemudian setelah ditelusuri oleh rekan-rekan peneliti lainnya, tidak ditemukan adanya kredibilitas dari lembaga tersebut, yang akhirnya diduga fiktif dan juga dipertanyakan. Kasus ini pun memicu kekhawatiran serius.

Karena dunia ilmiah sangat bergantung pada kejujuran, transparansi dan juga integritas. Maka jika identitas dan afiliasinya dipalsukan, kepercayaan terhadap hasil risetnya pun ini bisa dipertanyakan. 


Dugaan fabrikasi penelitian gunakan AI


Kejanggalan berikutnya tidak berhenti sampai pada identitas saja. Tetapi juga terhadap penelitian yang dipresentasikan. Yang mana terdapat beberapa poin yang sulit untuk bisa diverifikasi. Misalnya dari poster ilmiah yang mengklaim melibatkan data primer dari sejumlah negara.

Namun terduga pelaku tidak dapat menunjukkan atau tidak dapat menjelaskan detail dari metodologi penelitiannya. Mereka juga tidak mampu menunjukkan kolaborator lokal dari berbagai negara ataupun bukti persetujuan secara etika ilmiah. 

Sejumlah peserta konferensi kemudian mempertanyakan validitas data dan juga temuan yang dipresentasikan. Dan ketika ditanyakan terduga pelaku ini disebut mengakui bahwa poster penelitian dibuat dengan bantuan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. 

Kasus ini memunculkan kekhawatiran baru di dunia akademik. Di mana teknologi AI sebetulnya memang dapat digunakan untuk membantu proses penulisan ataupun analisis. Tetapi diperlukan adanya pertanggungjawaban atau harus berlandaskan data yang real dan sesuai dengan etika ilmiah. Jika digunakan untuk membuat riset palsu maka hal ini bisa merusak kepercayaan terhadap dunia ilmiah itu sendiri. 


Respons pemerintah Indonesia


Lantas pertanyaan berikutnya, bagaimana respons dari pemerintah Indonesia? Karena kasus ini sudah viral dan heboh di jagad maya.

Kasus ini pun akhirnya menjadi perhatian pemerintah. Di mana Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, ketika diwawancarai oleh Media Indonesia menyebutkan bahwa, "kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan serta keterkaitan dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia." 

Pemerintah menyatakan akan melakukan penelusuran secara mendalam terkait dengan kasus ini. Langkah ini pun dinilai penting untuk bisa menjaga nama baik akademisi dan juga peneliti Indonesia termasuk nama baik dari sejumlah institusi yang diduga dicatut. 

Sejauh ini sejumlah temuan terus disuarakan di media sosial terkait dengan keterlibatan terduga pelaku di konferensi lainnya. Bahkan bukan hanya di Denmark, bukan hanya di bidang pneumonia, tetapi juga ditemukan di negara lain dan di bidang keilmuan lain yang jauh berbeda.

Kasus ini bisa terungkap berkat sorotan dari sesama ilmuwan Indonesia yang mendatangi konferensi tersebut secara langsung dan juga menemukan kejanggalan serta melaporkan pada penyelenggara konferensi. 

(Wijokongko)