Terduga Pelaku Pemalsuan Riset Beri Klarifikasi, Akui Pakai AI

Ilustrasi: Freepik

Terduga Pelaku Pemalsuan Riset Beri Klarifikasi, Akui Pakai AI

Despian Nurhidayat • 28 May 2026 17:03

Jakarta: Tiga nama yang diduga melakukan pemalsuan riset ilmiah dalam konferensi ilmiah internasional untuk para ahli pneumonia di Kopenhagen, Denmark, yang berlangsung pada 17–21 Mei 2026 memberikan klarifikasi. Keterangan disampaikan lewat Threads menggunakan nama Rifaldy dan Tim. 

Dalam karosel foto klarifikasi tersebut, mereka meminta maaf atas kejadian yang telah membuat gempar dunia riset tersebut. 

"Dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak atas polemik dan kegaduhan yang terjadi terkait aktivitas konferensi internasional yang kami lakukan," tulis pernyataan tersebut. 

Mereka memohon maaf bahwa partisipasi dalam konferensi memang bertujuan untuk memperoleh travel grant sekaligus kesempatan untuk bepergian ke luar negeri.

"Kami juga memohon maaf bahwa dalam beberapa abstrak dan presentasi terdapat penggunaan Al secara berlebihan dan tidak semestinya, termasuk kombinasi falsfying Al dalam proses penyusunan, framing, dan representasi penelitian. Hal tersebut membuat beberapa karya kami tidak disusun dengan standar transparansi akademik yang seharusnya," lanjut pernyataan tersebut.

Mereka juga menyatakan memohon maaf atas kurangnya pemahaman dan etika dalam menjalankan aktivitas penelitian dan akademik. Terkait afiliasi, mereka memohon maaf bahwa beberapa institusi dicantumkan tanpa izin maupun keterlibatan resmi dari institusi terkait. 

"Kesalahan tersebut sepenuhnya berasal dari pihak kami," jelas pernyataan tersebut. 

Mereka juga meminta maaf terkait penggunaan afiliasi komunitas riset independen yang pada penyampaiannya menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah merupakan institusi formal resmi.

Selain itu, mereka mengakui adanya pencantuman nama beberapa individu yang tidak hadir atau tidak terlibat langsung dalam konferensi tertentu, serta adanya presentasi yang diwakili oleh satu orang untuk beberapa nama penulis sekaligus. Hal tersebut merupakan kesalahan mereka.

"Kami juga memohon maaf bahwa tindakan kami telah menimbulkan kekecewaan dan merusak kepercayaan banyak pihak terhadap integritas akademik. Kami benar-benar menyesali seluruh tindakan dan keputusan yang telah kami ambil. Kami berkomitmen untuk tidak mengulangi hal serupa lagi dan akan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran besar dalam hidup kami," tutur pernyataan tersebut. 

"Sekali lagi, kami memohon maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan, termasuk institusi, individu, panitia konferensi, komunitas akademik, dan masyarakat luas. Terima kasih," tuturnya.

Pelaku pemalsuan riset di konferensi ISPPD 2026, Kopenhagen, Denmark. (Instagram/@w.o.d.d)

Kronologi pemalsuan riset

Kasus dugaan pemalsuan riset terjadi di acara International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, Kopenhagen, Denmark, pertengahan Mei lalu. Pemalsuan diduga dilakukan tiga peneliti asal Indonesia yaitu Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti yang menghadiri seminar internasional tersebut.

Salah satu dari terduga pelaku disinyalir melakukan pemalsuan identitas dengan modus berganti-ganti nama pada beberapa sesi presentasi yang berbeda, hanya bermodalkan jilbab dan kartu nama (nametag). Pada sesi presentasi di Station 01, pelaku hadir dengan identitas sebagai Riana Dwi Kurniawati. Namun, 10 menit kemudian, ia berpindah ke Station 04 dengan menggunakan nametag berbeda atas nama Dimas Fajar Prasetyo.

Kelompok peneliti ini juga dituding mencantumkan afiliasi lembaga fiktif bernama The IMCD BioMed Research Foundation. Kelompok Prihantini dkk. diduga menyusun riset mereka menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI) serta melakukan fabrikasi data secara sistematis, mulai dari memalsukan data, gambar, hingga narasi tulisan.

Meskipun riset tersebut diklaim dilakukan di berbagai penjuru dunia, mulai dari Pegunungan Andes di Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara, seluruh perisetnya justru berasal dari Indonesia tanpa adanya kolaborator asing maupun dokumen persetujuan etik (ethical clearance) sama sekali.

(Arga Sumantri)