Ilustrasi Pexels
Selain Riset WNI di Denmark, Ini 5 Kasus Pemalsuan Riset yang Jadi Sorotan Dunia
Riza Aslam Khaeron • 28 May 2026 17:55
Jakarta: Dunia akademisi Indonesia kembali diguncang oleh kontroversi baru. Peneliti Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti dituduh melakukan pemalsuan riset menggunakan kecerdasan buatan (AI) serta mencantumkan afiliasi lembaga fiktif.
Kasus ini terjadi pada acara International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark. Forum ilmiah internasional bergengsi itu berlangsung pada pertengahan Mei lalu.
Tahun lalu, publik juga sempat dikejutkan oleh kasus Yoesoep Edhie Rachmad yang memiliki lebih dari 5 juta sitasi. Sebuah angka fantastis yang memicu tuduhan manipulasi dan pemalsuan skala masif.
Meski demikian, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang pernah terjerat dalam badai kontroversi akademik. Berikut adalah 5 kasus serupa yang pernah menggegerkan dunia:
1. Hwang Woo-suk: Skandal Sel Punca (Stem Cell) di Korea Selatan

Foto: via Wikimedia Commons
Hwang Woo-suk sempat dipuja sebagai pakar kloning Korea Selatan. Namanya melambung ke kancah internasional setelah memublikasikan dua riset monumental di jurnal ilmiah terkemuka dunia, Science, pada tahun 2004 dan 2005.
Riset tersebut diklaim sebagai terobosan medis abad ini karena berhasil menciptakan sel punca (stem cell) embrionik manusia melalui teknik kloning. Selain itu, Hwang juga dikenal atas klaimnya yang berhasil mengkloning seekor anjing untuk pertama kalinya di dunia.
Kala itu, media massa dan komunitas ilmiah global menyambut hangat temuan ini. Sel punca yang disesuaikan dengan DNA pasien diyakini menjadi kunci emas untuk menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif yang sebelumnya sulit diobati, seperti diabetes dan Alzheimer.
Namun, investigasi mendalam yang dilakukan oleh Seoul National University (SNU) mengungkap fakta mengejutkan. Seluruh data dalam artikel tahun 2005—mulai dari hasil tes DNA, foto teratoma, badan embrioid (embryoid bodies), hingga kecocokan genetik MHC-HLA—telah difabrikasi alias dipalsukan.
Akibatnya, jurnal Science resmi menarik kembali kedua makalah Hwang. Hwang kemudian mengundurkan diri dari jabatannya.
2. Haruko Obokata: Skandal Sel STAP di Jepang

Foto: RIKEN
Haruko Obokata, seorang peneliti muda berbakat di lembaga riset prestisius RIKEN, Jepang, mendadak jadi bintang dunia pada tahun 2014. Ia memublikasikan metode revolusioner mengenai pembuatan sel STAP (Stimulus-Triggered Acquisition of Pluripotency) di jurnal ilmiah terkemuka, Nature.
Dalam makalahnya, Obokata mengklaim telah menemukan cara instan untuk memprogram ulang sel dewasa biasa menjadi sel punca. Caranya merendam sel tersebut ke dalam larutan asam selama 30 menit guna memberikan efek kejut (shock).
Para ilmuwan terkemuka di dunia langsung menjuluki temuan ini sebagai "penemuan sains terbesar" dan "titik balik sejarah (game changer)" dalam dunia kedokteran regeneratif. Namun, tidak lama setelah dipublikasikan, muncul pertanyaan tentang keabsahan gambar, data, dan metode penelitian.
Merespons hal tersebut, RIKEN segera membentuk komite investigasi independen. Pada 1 April 2014, komite resmi menyatakan Obokata bersalah atas dua bentuk pelanggaran ilmiah berat (scientific misconduct).
Jurnal Nature pun menarik publikasi tersebut. Seperti Hwang, Obokata akhirnya mengundurkan diri setelah hasil investigasi tersebut.
"Saya sangat menyadari tanggung jawab saya atas kegaduhan yang menimpa banyak orang akibat kurangnya pengalaman saya. Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus meminta maaf," ujar Obokata, sebagaimana dikutip dari BBC.
3. Diederik Stapel: Fabrikasi Data Psikologi Sosial di Belanda

Foto: Erik van der Burgt / Verbeeld
Diederik Stapel adalah mantan profesor psikologi sosial di Tilburg University, Belanda. Ia tercatat sebagai pelaku salah satu skandal fabrikasi data terbesar dalam sejarah ilmu sosial modern.
Bekerja di universitas tersebut sejak tahun 2006, Stapel dikenal sebagai peneliti yang luar biasa produktif. Ia juga piawai dalam menggalang dana riset berskala besar.
Makalah-makalah ilmiahnya tidak hanya sering terbit di jurnal ilmiah terkemuka dunia kala. Tulisannya disebut menawarkan sudut pandang baru tentang cara kerja pikiran dan perilaku sosial manusia.
Namun, kontroversi muncul ketika para peneliti junior di laboratoriumnya melaporkan kecurigaan pemalsuan data ini secara rahasia kepada Rektor Tilburg University, Philip Eijlander. Tiga panel investigasi independen pun segera dibentuk untuk menelusuri seluruh karya ilmiahnya.
Laporan akhir komisi investigasi menyimpulkan bahwa Stapel telah memalsukan data dalam sedikitnya 55 makalah ilmiah dan 10 disertasi mahasiswa doktoral yang dibimbingnya. Stapel juga dilaporkan tidak sekadar memanipulasi angka-angka kecil, tetapi mengarang set data fiktif dari nol untuk mendukung hipotesis yang diinginkannya.
Pada November 2011, Stapel secara sukarela mengembalikan gelar doktornya ke University of Amsterdam. Ia mengakui bahwa "perilakunya selama beberapa tahun terakhir sangat tidak sejalan dengan kewajiban moral dan integritas yang melekat pada gelar doktor."
| Baca Juga: Terduga Pelaku Pemalsuan Riset Beri Klarifikasi, Akui Pakai AI |
4. Jan Hendrik Schön: Pemalsuan Data Fisika di Bell Labs

Foto: Thomas Kuns via badische-zeitung.de
Pada awal era 2000-an, Jan Hendrik Schön dianggap sebagai "anak emas" di dunia fisika. Bekerja di Bell Labs, Amerika Serikat, fisikawan muda ini dikenal sangat produktif setelah bergabung sebagai mahasiswa magang sejak tahun 1997.
Ia menerbitkan puluhan makalah ilmiah, menyajikan hasil eksperimen spektakuler di bidang material molekuler dan superkonduktivitas. Namun, kecurigaan mulai muncul ketika para fisikawan di berbagai laboratorium dunia kesulitan untuk mengulang atau mereplikasi hasil eksperimen Schön.
Pada Mei 2002, Bell Labs akhirnya membentuk komite investigasi independen yang dipimpin oleh Malcolm Beasley, seorang profesor fisika terapan dari Stanford University. Berdasarkan hasil investigasi tersebut, Schön dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran ilmiah berat dalam 16 dari 24 tuduhan yang diperiksa.
Modus operandi Schön meliputi fabrikasi data mentah, manipulasi grafik, hingga menggunakan grafik yang sama persis untuk mewakili eksperimen yang sepenuhnya berbeda. Ketika diminta menunjukkan bukti otentik, Schön mengaku tidak memiliki catatan laboratorium atau data mentah yang memadai karena komputer miliknya telah rusak.
Pasca-terbitnya laporan investigasi tersebut, Bell Labs langsung memecat Schön. Gelar doktornya kemudian dicabut oleh universitas tempatnya bernaung.
5. Peter Chen: Jaringan Peer Review Palsu dan Identitas Rekaan di Taiwan
Kasus Chen-Yuan atau yang dikenal sebagai Peter Chen di Taiwan menyajikan modus operandi yang sedikit berbeda. Fokus skandal ini bukan sekadar memalsukan data hasil riset di laboratorium, melainkan memanipulasi sistem publikasi ilmiah itu sendiri secara sistematis.Pada tahun 2014, penerbit akademik SAGE menarik sekaligus 60 artikel dari Journal of Vibration and Control setelah menemukan adanya skema manipulasi ulasan sejawat (peer review) dan lingkaran sitasi palsu (citation ring) yang diotaki oleh Chen. Kasus penarikan 60 makalah ini menjadi salah satu skandal pencabutan artikel ilmiah terbesar dalam sejarah sains.
Mengutip Vox, Chen diduga sengaja menciptakan hingga 130 akun surel palsu dengan menggunakan identitas ilmuwan fiktif maupun ilmuwan asli tanpa izin. Saat mengirimkan draf makalahnya ke jurnal, Chen merekomendasikan surel-surel palsu buatannya tersebut sebagai peninjau (reviewer) independen.
Dengan cara ini, draf artikel milik Chen dikirimkan ke kotak masuk surelnya sendiri, sehingga ia bisa menulis ulasan positif dan meloloskan risetnya sendiri tanpa hambatan. Selain itu, ia disinyalir menggunakan nama penulis fiktif dalam beberapa artikelnya untuk meningkatkan reputasi publikasinya.