20 April 2026 14:27
Jakarta: Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperketat pengawasan di Selat Hormuz dan memaksa sejumlah kapal asing berbalik arah. Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menilai, situasi ini dipicu oleh krisis kepercayaan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Konflik antara Iran dan AS hingga saat ini masih belum menemukan titik penyelesaian. Dina menjelaskan bahwa dalam setiap proses negosiasi, kepercayaan menjadi faktor penentu. Namun pada kondisi saat ini, Iran memandang AS sebagai pihak yang sulit dipercaya.
"Namanya negosiasi tentu syarat utamanya adalah kepercayaan. Ketika para pihak tidak bisa mempercayai lawannya tentu sulit tercapai sebuah kesepakatan. Dalam hal ini Iran memandang bahwa AS itu tidak bisa dipercaya," jelas Dina, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 20 April 2026.
Rendahnya kepercayaan Iran terhadap AS dipicu oleh pengalaman masa lalu. Di saat proses perundingan nuklir berlangsung, AS justru melancarkan serangan ke Iran. Tak hanya itu, bahkan ketika negosiasi di Pakistan tak membuahkan hasil, AS justru memblokade Selat Hormuz.
Sikap AS inilah yang akhirnya semakin memperkeruh konflik. Dina menyebut, jika perundingan lanjutan di Pakistan tetap digelar, peluang untuk mencapai hasil yang diharapkan akan sulit terwujud.
| Baca Juga: Sejumlah Kapal Kargo dan Tanker Tertahan usai Iran Tutup Kembali Selat Hormuz |