Imbas Penutupan Selat Hormuz: Harga Energi Melambung, Operasional Pelabuhan AS Tertekan

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Imbas Penutupan Selat Hormuz: Harga Energi Melambung, Operasional Pelabuhan AS Tertekan

Richard Alkhalik • 20 April 2026 13:27

Los Angeles: Perpaduan antara gejolak geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tarif kini mulai berdampak pada aktivitas di kompleks pelabuhan terbesar di Amerika Serikat (AS). Mereka harus menaikkan biaya pengiriman.

Dinamika tersebut memicu pembengkakan ongkos logistik di Pelabuhan Los Angeles dan Long Beach, sekaligus mengerek laju inflasi di seluruh sektor riil perekonomian AS.

Melansir Xinhua, Senin, 20 April 2026, CEO Pelabuhan Long Beach Noel Hacegaba mengatakan efek dari disrupsi rantai pasok ini tidak hanya terdampak di area pelabuhan saja. Melainkan secara otomatis juga merambat ke tingkat konsumen yang terefleksi pada lonjakan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Jajaran eksekutif Pelabuhan Long Beach mengatakan gangguan logistik yang dipicu dari ketegangan Selat Hormuz. Hal ini diperparah oleh penerapan tarif baru era Presiden AS Donald Trump telah merusak stabilitas jalur perdagangan global.

Situasi tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi kelangsungan operasional pelabuhan sekaligus mempertaruhkan nasib sekitar tiga juta pekerja logistik di Amerika Serikat.

Wakil Presiden Kebijakan Rantai Pasok dan Bea Cukai di National Retail Federation (NRF) Jonathan Gold menyoroti kombinasi tensi geopolitik. Serta ketidakpastian kebijakan perdagangan memberikan tekanan ganda bagi para pelaku usaha ritel.

Gold mengatakan minimnya volume impor peritel dari Timur Tengah tidak serta-merta menjadikan rantai pasok domestik tidak terpengaruh. Ia menegaskan rantai pasok bersifat global dan saling terhubung, sehingga disrupsi tersebut tetap akan memicu efek domino berskala luas.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Guncangan harga energi dan beban konsumen

Secara fundamental tekanan ekonomi ini mulai terefleksi pada kinerja pelabuhan Long Beach sejak bulan lalu. Mencatat adanya penurunan volume kontainer sebesar 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Hacegaba menyoroti tekanan tersebut kian diperparah oleh krisis di Selat Hormuz yang menjadi jalur maritim untuk mendistribusikan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Penutupan dan pembatasan akses di kawasan tersebut memaksa kapal-kapal niaga untuk mengambil rute alternatif. Rute yang semakin jauh tersebut memicu lonjakan konsumsi bahan bakar, mengacaukan jadwal pelayaran, dan mendorong harga energi meroket tajam.

“Perang di Timur Tengah terus menambah ketidakpastian bagi rantai pasokan global,” kata Hacegaba.

Hacegaba memaparkan dampak dari krisis tersebut mengakibatkan harga minyak mentah telah menembus harga USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Serta menekan kawasan California Selatan dengan harga bensin eceran yang meroket hingga menyentuh USD6 per galon.

Situasi ini dinilai kian mengkhawatirkan karena tren historis pasar menunjukkan lonjakan harga energi selalu bergerak dengan cepat saat merespons krisis, namun bergerak sangat lambat saat fase pemulihan.

Sejumlah analis energi dan lembaga federal AS mengategorikan krisis ini sebagai salah satu disrupsi logistik terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Badan Informasi Energi AS memperingatkan kendala operasional di Selat Hormuz merupakan pendorong terjadinya lonjakan harga minyak dan bensin energi yang juga merambat terhadap industri manufaktur dan pelayaran logistik.

Ketika jalur pelayaran utama menjadi berisiko atau tidak dapat diakses, rute menjadi lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan jadwal menjadi kurang dapat diandalkan.

Kenaikan biaya logistik

Sebagai contoh, Gold mengatakan perusahaan Amazon telah memberlakukan biaya tambahan logistik sementara sebesar 3,5 persen. Sementara itu, Layanan Pos AS berencana mengerek tarif pengiriman sebesar delapan persen, berbarengan dengan melesatnya biaya tambahan bahan bakar truk logistik darat hingga 25 persen.

“Untuk sementara waktu, perusahaan pengiriman barang menanggung kenaikan biaya akibat lonjakan harga bahan bakar hingga tarif Hari Pembebasan tahun lalu. Namun, hal itu tidak lagi berlaku saat ini. Biaya-biaya tersebut dibebankan secara merata kepada konsumen,” kata Hacegaba.

Laporan Global Port Tracker edisi terbaru dari NRF memproyeksikan laju impor di sejumlah pelabuhan peti kemas utama AS akan terus tertahan di bawah level tahun lalu setidaknya hingga pertengahan 2026. Proyeksi ini mencerminkan strategi manajemen persediaan yang hati-hati dari para pelaku usaha di tengah tingginya ketidakpastian.

Para pemimpin pelabuhan memperingatkan bahwa selama ketegangan geopolitik masih berlanjut dan rezim tarif belum menemui titik terang. Maka akan terus memberi tekanan pada pasar energi global dan biaya logistik yang pada akhirnya konsumen yang harus menanggung bebannya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)