Jakarta: Di tengah bising kereta yang melintas di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Mila (51) menjalani hidup dari balik gubuk sempit berukuran 3x4 meter, beratapkan terpal lusuh.
Bukan pilihan, melainkan keterpaksaan yang membawanya tinggal di bantaran rel. Setelah terusir dari kontrakan lama yang direnovasi, Mila tak lagi punya cukup uang untuk menyewa tempat tinggal. Dari hasil memulung Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari, ia harus menghidupi keluarganya.
Ironisnya, hidup di kawasan kumuh tak membuat kebutuhan dasar jadi gratis. Untuk mandi, Mila harus pergi ke WC umum dekat pasar, sementara air untuk memasak dibeli seharga Rp15 ribu per dua ember.
Di balik keterbatasan itu, sempat ada secercah harapan. Saat Presiden Prabowo Subianto berkunjung, Mila menerima bantuan Rp2 juta yang ia gunakan untuk memperbaiki gubuknya agar lebih kokoh.
Namun kini, kekhawatiran baru muncul. Rencana relokasi ke rumah susun justru membuat Mila cemas. Ia takut kehilangan akses pekerjaan jika harus pindah jauh dari pasar.
Bagi Mila, bantaran rel yang bising adalah sumber kehidupan. Sementara hunian yang lebih layak justru terasa seperti ancaman bagi keberlangsungan hidupnya.
(Metro TV/Muhammad Alvi)